Jumat, 23 Januari 2015
Sabtu, 17 Januari 2015
Gerakan Cinta Al-Qurãn
1. Pijakan
“Sesungguhnya Al-Qurãn ini memandu kearah kehidupan yang
mahatangguh serta membawa semangat optimis bagi para mu’min yang berbuat tepat
menurutNya bahwa mereka pasti mendapatkan hasil sebesar-besarnya.” (Surat
Al-Isra ayat 9).
“Sesungguhnya keunggulan Al-Qurãn atas seluruh ‘kalam’ (ide;
wacana; artikel; buku; tontonan, dsb.) adalah sama dengan keunggulan Allah atas
seluruh makhluknya.” (Hadis).
“Sesungguhnya Al-Qurãn itu (bisa menjadi) pembelamu, atau
penuntutmu.” (Hadis)
“(Manusia) yang terbaik di antara kalian adalah dia yang
belajar Al-Qurãn, kemudian mengajarkannya.” (Hadis).
Kitab-kitab sejarah dan sunan menunjukkan bahwa para sahabat berlomba menghafalkan Al-Quran dan mereka memerintahkan anak-anak dan istri-istri mereka untuk menghafalkannya. Mereka membacanya dalam shalat di tengah malam, sehingga alunan suara mereka teredengar bagai suara lebah.
Rasulullah pun sering melewati rumah-rumah orang Anshar dan berhenti untuk mendengar alunan suara mereka yang membaca Al-Quran di rumah-rumah. (Manna Khalil al-Qatthan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran).
Kitab-kitab sejarah dan sunan menunjukkan bahwa para sahabat berlomba menghafalkan Al-Quran dan mereka memerintahkan anak-anak dan istri-istri mereka untuk menghafalkannya. Mereka membacanya dalam shalat di tengah malam, sehingga alunan suara mereka teredengar bagai suara lebah.
Rasulullah pun sering melewati rumah-rumah orang Anshar dan berhenti untuk mendengar alunan suara mereka yang membaca Al-Quran di rumah-rumah. (Manna Khalil al-Qatthan, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran).
2. Ajakan
Saudara-saudara sekalian! Dari segi jumlah (kuantitas) kita
adalah bangsa Muslim terbesar di dunia. Tapi dalam hal kedekatan, kegemaran,
kecintaan, dan penghayatan terhadap Al-Qurãn, bisa jadi keadaan kita adalah
sebaliknya.
Bila kita perhatikan kehidupan kaum Muslimin Indonesia
sehari-hari, tampak jelas bahwa kedekatan kita dengan Al-Qurãn telah
tergantikan oleh keakraban kita dengan berbagai saingannya dalam berbagai
bentuk hiburan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi dan maraknya media
sosial, tempat kita bisa menghabiskan waktu untuk bersenang-senang mencari
hiburan, untuk mengilangkan stres kita karena berbagai tekanan dan kesulitan
hidup yang sebenarnya tercipta oleh gaya hidup modern, yang ‘keren’ namun pada
hakikatnya membuat kita selalu merasa kosong, hampa, bingung, alias lapar dan
haus secara batin.
Hal itu pada hakikatnya terjadi karena kita telah
mengabaikan santapan dan obat ruhani kita, yakni Al-Qurãn, yang kita sebut
sebagai kitab suci. Semula sebutan ini kita buat tentu untuk menegaskan
fungsinya sebagai penyuci batin kita dari segala motivasi selain kepatuhan
terhadap Allah. Namun, perlahan tapi pasti, ‘kesucian’ Al-Qurãn terjadi karena
ia bebas dari sentuhan kita! Kita telah membuat Al-Qurãn terasing.
Tak perlu berpanajang kalam. Dampak dari terasingnya
Al-Qurãn telah sama kita rasakan.
Karena itu, selagi kesadaran masih bisa timbul, mari kita
akrabi kembali Al-Qurãn.
Mari kita kembali kepada Al-Qurãn!
Mari kita sambut da’wah Allah yang menawarkan kemenangan,
keunggulaan, dan kebahagian!
Saudaraku!
Mari kita ciptakan GERAKAN CINTA AL-QURÃN !!!
3. Caranya
1.
Bersatulah para pengajar
Al-Qurãn bersama para pemilik tempat dan dana.
2.
Bikin maklumat kepada para
pemuda/pemudi (terutama), anak-anak, dan juga orang dewasa dan tua, agar mereka
berkumpul di suatu tempat (masjid, mushalla, rumah pribadi, dll.), setiap
malam, untuk bersama-sama membaca Al-Qurãn, selama 1 jam.
3.
Sediakan makanan dan
minuman.
4.
Setiap peserta diabsen.
Buat catatan mulai dari siapa yang selalu hadir, sampai kepada yang paling
jarang hadir. Beri penghargaan (hadiah) bagi yang paling sering hadir sesuai
peringkat kehadiran mereka.
5.
Berikan hadiah paling
lambat 3 bulan sekali.
6.
Sediakan mushhaf Al-Qurãn
yang bagus, utamakan yang disertai terjemahan per kata.
7.
Acara pembacaan Al-Qurãn
bisa dimulai sejak pukul 20.00, pukul 21.00, pukul 22.00. Selambat-lambatnya
dimulai pukul 23.00 waktu WIB (sesuaikan dengan waktu setempat).
8.
Setiap peserta harus
memegang 1 mushhaf Al-Qurãn, yang dibelikan panitia (tidak boleh tidak memegang
mushhaf).
9.
Pembacaan dipimpin oleh
ahlinya, atau setidaknya yang paling baik bacaannya. Atau bisa juga dengan menyetel rekaman. Para peserta diwajibkan
membaca dengan suara cukup keras, tidak boleh membaca pelan, apalagi hanya
dalam hati. Mereka harus membiasakan diri untuk menyuarakan Al-Qurãn.
10.
Pembacaan hanya dilakukan
sekitar 1 jam.
11.
Pembacaan pada hari pertama
dimulai dari surat Al-Fãtihah, dilanjutkan dengan surat-surat lain, dan
berhenti pada akhir surat, setelah waktu sudah mencapai 1 jam (bisa kurang atau
lebih sedikit). Hari berikutnya dilanjutkan dengan surat-surat lain.
12.
Setelah khatam, dimulai
lagi dari surat Al-Fãtihah. Dan begitu seterusnya berulang-ulang.
13.
Setelah sekian tahun,
panitia diharapkan melakukan seleksi untuk memisahkan para peserta menjadi dua
kelompok, yaitu:
a.
kelompok yang sudah hafal
mushhaf
b.
kelompok yang belum hafal.
14.
Kelompok yang sudah hafal
dipisahkan, untuk selanjutnya diberi pelajaran bahasa dan tafsir Al-Qurãn,
serta berbagai wawasan yang dibutuhkan.
15.
Para peserta yang sudah
punya kemampuan membentuk kelompok baru, dipersilakan membentuk
kelompok-kelompok baru. Beri bantuan dana bila perlu.
4. Lakukan segera!
Demikianlah saudaraku.
Mudah-mudahan ide tentang GERAKAN CINTA AL-QURÃN ini
mendapat sambutan.
Dan mudah-mudahan gerakan ini dapat dilakukan secepatnya di
tempat tinggal anda, di mana pun. Di seluruh peloksok Indonesia.
Ketahuilah bahwa gerakan ini akan dibenci oleh siapa pun
yang tidak menghendaki umat Islam bangkit dari keterpurukannya. Dan itu adalah
tantangan yang harus kita hadapi, dan justru harus semakin meningkatkan gairah
kita.
Mari berjuang bersama!
Cintai Al-Qurãn!
Bangkitlah dari keterpurukan.
Tunjukan bahwa kebangkitan kita adalah rahmat bagi seluruh
alam!
Ayo mulai!
Jangan tunda-tunda lagi.
Allahu akbar!
*Bekasi, Sabtu, 17 Januari, pkl. 20.01, 2015.
A. Husein
Minggu, 04 Januari 2015
Catatan Ringkas Sūrah Al-An’ām (4 Tahap Sejarah Rasulullah Di Makkah)
Periode
pewahyuan
Menurut sebuah
hadis Ibnu Abbas, surat ini seluruhnya diturunkan di satu tempat di Makkah.
Asma binti Yazid
bertutur, “Ketika surat ini turun, Rasulullah sedang mengendarai unta betina,
dan saya sendiri memegang tali hidungnya. Unta betina itu mulai merasakan beban
yang berat luar biasa, sehingga tulang-tulangnya seperti akan rontok.”
Dari hadis lain
kita dapatkan pula informasi bahwa surat ini diturunkan pada tahun terakhir
menjelang Hijrah, dan bahwa surat ini diturunkan didiktekan seluruhnya pada
suatu malam.
Latar
belakang pewahyuan
Setelah
memastikan masa pewahyuannya, lebih mudah bagi kita untuk menggambarkan latar
belakang penurunan surat ini. Dua belas tahun telah berlalu sejak Rasulullah
memulai menda’wahkan Islam. Penentangan dan kekerasan Quraisy telah semakin
liar dan brutal, dan kebanyakan Muslim harus meninggalkan rumah mereka untuk
berhijrah ke Habsi (Abyssinia). Di atas segalanya, dua orang pendukung
terbaiknya, Khadijah dan Abu Thalib telah tiada. Dengan demikian, Rasulullah
telah kehilangan pendukung duniawinya. Namun beliau terus berda’wah walau harus
menghadapi ‘taring’ musuhnya. Alhasil, perlahan tapi pasti, warga-warga terbaik
Makkah dan suku-suku di sekitarnya mulai menerima Islam. Sementara masyarakat
Makkah secara keseluruhan tetap keras kepala menolak dan melakukan perlawanan. Siapa
pun yang memperlihatkan kecenderungan terhadap Islam, ia menjadi sasaran
celaan, ejekan, kekerasan fisik dan pengucilan.
Dalam situasi
gelap itulah secercah cahaya memancar dari Yatsrib. Di sana Islam mulai
berkembang bebas berkat usaha sejumlah tokoh berpengaruh dari suku Aus dan
Khazraj yang sebelumnya telah menyatakan kemusliman mereka di Makkah. Ini
merupakan awal sederhana dalam perjalanan Islam menuju sukses, dan pada waktu
tak ada orang yang bisa meramalkan kemungkinan-kemungkinan besar yang terdapat
di baliknya. Bagi para pengamat sepintas kilas, tampak bahwa Islam pada waktu
itu hanyalah sebuah gerakan lemah, yang tidak memiliki dukungan dana. Para
pendukungnya hanya sedikit keluarga Rasulullah sendiri, serta sejumlah pengikut
yang miskin. Jelas, para pengikut yang papa itu tak mampu memberikan bantuan
yang cukup, karena diri mereka sendiri merupakan orang-orang terbuang dari
masyarakat mereka, yang telah menjadi musuh dan ancaman bagi nyawa mereka.
Pokok
bahasan
Fokus bahasan
surat ini bisa dibagi ke dalam 7 pokok masalah:
1.
Penolakan
terhadap syirk(un) (politeisme), dan ajakan untuk bertauhid
(monoteisme).
2.
Maklumat
doktrin “kehidupan setelah mati” dan penolakan atas anggapan yang salah bahwa
kehidupan hanyalah berlangsung di dunia ini saja.
3.
Penolakan
terhadap berbagai bentuk takhyul.
4.
Maklumat
tentang asas-asas moral untuk membangun masyarakat Islam.
5.
Jawaban-jawaban
atas protes-protes yang timbul terhadap pribadi dan risalah Rasulullah.
6.
Hiburan
dan dorongan semangat bagi Rasulullah dan para pengikutnya, yang pada waktu itu
diliputi kecemasan dan kecil hati karena kegagalan yang nyata dalam penyebaran
misi di Makkah.
7.
Peringatan
dan ancaman bagi para kafir dan penentang, agar mereka berhenti bersikap masa
bodoh dan sombong.
Mohon dicatat
bahwa kendati bisa dikelompokkan ke dalam 7 pokok bahaswan tersebut; semuanya
tidak bisa dianggap saling terpisah. Wacananya secara keseluruhan berjalin
berkesinambungan, dan topik-topik tersebut dibahas secara berulang-ulang dengan
berbagai cara (ungkapan).
Latar
belakang surat-surat Makkiyah
Karena surat ini
merupakan surat panjang pertama dalam pewahyuan Al-Qurãn, tentu akan bermanfaat
bila dijelaskan tentang latar belakang surat-surat Makkiyah secara umum,
sehingga pembaca bisa memahami secara mudah tentang surat-surat Makkiyah dan
rujukan-rujukan kami sehubungan dengan tahapan-tahapannya yang berbeda, yang
akan ditemui dalam penafsiran kami (tim Quran Project).
Pertama-tama
harus dicatat bahwa informasi-informasi tentang surat-surat Makkiyah sangat
sedikit. Sebaliknya,
keterangan-keterangan pasti tentang surat-surat Madaniyah cukup mudah
ditemukan. Hadis-hadis shahih tentang peristiwa-peristiwa pewahyuan kebanyakan
ayat mudah didapat. Di lain pihak, informasi rinci tentang surat-surat Makkiyah
tidak ditemukan. Hanya sedikit surat dan ayat-ayat yang ditemukan informasi
hadis-hadis shahihnya, yang menjelaskan waktu dan peristiwa pewahyuan. Hal ini
terjadi karena sejarah periode Makkah tidak terhimpun serinci sejarah periode
Madinah. Karena itu, kami harus bergantung pada bukti-bukti internal
surat-surat Makkiyah ini untuk memastikan periode pewahyuan: misalnya
topik-topik yang dibahas dalam surat-suratnya, cara pembahasannya, dan rujukan
langsung maupun tidak langsung atas kejadian-kejadian dan pereistiwa-peristiwa
pewahyuannya. Jadi, jelaslah bahwa dengan demikian kami tidak bisa mengatakan
secara jitu bahwa surat ini dan itu atau ayat ini dan itu diwahyukan dalam
kesempatan ini dan itu. Paling banter, yang bisa kami lakukan adalah
membandingkan bukti internal sebuah surat dengan peristiwa-peeristiwa dalam
kehidupan Rasulullah di Makkah, dan sampai pada kesimpulan yang kurang lebih
benar pada tahap tertentu yang terkandung dalam sebuah surat.
Bila kami
bersikap demikian dalam memandang sejarah risalah Rasulullah di Makkah, maka
kami bisa membaginya ke dalam empat tahap.
1.
Tahap
pertama bermula dengan pengangkatan beliau sebagai rasul, yang berujung pada
maklumat kerasulan beliau tiga tahun kemudian. Selama periode ini, da’wah
dilakukan secara diam-diam kepada orang-orang terpilih, sementara masyarakat
Makkah secara umum tidak tahu.
2.
Tahap
kedua berlangsung selama dua tahun setelah maklumat kerasulan. Ini bermula
dengan penentangan oleh seorang demi seorang. Kemudian perlahan-lahan
penentangan, ejekan, fitnah dan sebagainya mulai marak, lalu kelompok-kelompok
kecil mulai terbentuk untuk melakukan penganiayaan terhadap para muslim yang
relatif miskin, lemah dan tak punya pelindung.
3.
Tahap
ketiga berlangsung selama sekitar enam tahun dari awal penganiayaan sampai
wafatnya Abu Thalib dan Khadijah dalam tahun kesepuluh kerasulan. Pada masa ini
penganiayaan terhadap para muslim semakin liar dan brutal, sehingga banyak di
antara mereka harus berhijrah ke Habsi; sementara yang tinggal di Makkah herus
mengalami boykot sosial dan ekonomi.
4.
Tahap
keempat berlangsung selama tiga tahun, mulai dari tahun kesepuluh sampai tahun
ketigabelas kerasulan. Ini merupakan masa ujian keras dan penderitaan pedih
bagi Rasulullah dan para pengikutnya. Kehidupan di Makkah sudah tak
tertahankan, dan pada waktu itu seolah tak ada tempat lain yang bisa dipilih
sebagai tempat mengungsi. Bahkan ketika Rasulullah berusaha mencari tempat ke
Tha’if, di sana tak dijumpainya tempat bernaung atau perlindungan. Selain itu,
pada musim haji, Rasulullah menemui setiap suku Arab untuk menawarkan Islam,
tapi di setiap sudut selalu ditolak mentah-mentah. Pada saat bersamaan, warga Makkah
bersidang untuk mendepaknya dengan cara membunuh atau mengurungnya atau
mengusirnya dari kota mereka. Tapi justru pada masa paling kritis inilah muncul
warga Yatsrib yang menerima Islam dan kemudian mengajak Rasulullah untuk
berhijrah.
Dalam surat-surat
Makkiyah, kita bisa memastikan berdasar ciri-ciri nyata setiap tahapan, dan
menegaskan pendahuluan, dan tahapan tertentu yang di dalamnya sebuah surat
diwahyukan.
Inti surat: ikrar keislaman
Surat ini
terutama membahas berbagai segi ajaran Islam: Tauhid, kehidupan sesudah mati,
kerasulan dan pelaksanaan ajarannya dalam kehidupan manusia. Seiring dengan
itu, surat ini berisi penolakan atas ajaran-ajaran yang salah dari para
penentang dan jawaban bagi penentangan mereka, peringatan dan ancaman bagi
mereka, serta hiburan bagi Rasulullah dan para pengikutnya yang mengalami
penganiayaan. Tentu saja tema-tema ini tidak terpisah-pisah begitu saja, tapi
terjalin dengan cara yang sangat istimewa. D
*Quran Project, Saudi Arabia.
Selasa, 16 Desember 2014
Sekilas Tentang Surat Al-Ma’idah
Periode pewahyuan
Tema surat ini mengisyaratkan,
dan ini didukung sejumlah hadis, bahwa surat ini diturunkan setelah perjanjian
Hudaibiyah pada akhir abad 6 H atau pada permulaan abad 7 H. Karena itulah surat
ini mengangkat masalah-masalah yang timbul dari perjanjian tersebut.
Pada waktu itu, Rasulullah
bersama 1400 Muslim pergi ke Makkah untuk berumrah. Tapi kaum Quraisy,
terdorong oleh rasa permusuhan mereka, menghalanginya, walau hal itu
bertentangan dengan adat lama bangsa Arab. Setelah dilakukan perundingan yang
sulit dan keras, dibuatlah perjanjian di Hudaibiyah, yang antara lain
menegaskan bahwa Rasulullah dan rombongannya baru boleh berumrah tahun
berikutnya. Hal itu merupakan peristiwa berharga bagi para Muslim, agar
selanjutnya mereka melakukan cara yang benar untuk datang ke Makkah dengan
keagungan Islam dan mencegah agar mereka tidak menghalangi orang-orang kafir
untuk berhaji sebagai pembalasan atas perbuatan buruk mereka.
Melakukan pembalasan terhadap mereka
tidaklah sulit, karena banyak orang kafir yang harus melalui wilayah kekuasaan
Muslim dalam perjalanan mereka ke Makkah. Karena itulah pendahuluan surat ini
menyinggung hal-hal yang berkaitan dengan perjalanan haji, dan tema yang sama
juga diulang dalam ayat 101-104. Perkara-perkara lainnya dalam surat ini juga
muncul dalam periode ini.
Asbabu-nuzul
Surat ini diwahyukan untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari kondisi-kondisi yang berbeda dari masa
penurunan surat Ali Imran dan An-Nisa. Pada waktu itu, pukulan akibat kekalahan
dalam Perang Uhud membuat keadaan di sekeliling Madinah menjadi sangat
berbahaya bagi kaum Muslim. Islam telah menjelma menjadi kekuatan tangguh, dan
Negara Islam telah meluas sampai ke Najd di sebelah timur, sampai ke Laut Merah
di sebelah barat, ke Suriah di utara, dan ke Makkah di selatan. Kekalahan dalam
Perang Uhud tidak meruntuhkan tekad para Muslim. Hal itu malah mendorong mereka
untuk berjuang lebih keras. Alhasil, berkat perjuangan yang tak kenal henti dan
pengorbanan yang tiada tara, kekuasaan para suku yang mengitari mereka dalam
radius 200 mil atau lebih, telah hancur. Ancaman Yahudi yang selalu menghantui
Madinah telah disapu seluruhnya, dan Yahudi di bagian-bagian lain tanah Hijaz
telah menjadi pembayar upeti ke Madinah. Usaha terakhir Quraisy untuk menekan
Islam telah digagalkan melalui Perang Parit. Setelah kejadian itu, jelaslah
bagi bangsa Arab bahwa sekarang tak ada lagi kekuatan yang mampu menghalangi
lajunya pergerakan Islam. Kini Islam bukan lagi hanya doktrin yang menghuni
pikiran dan hati tapi sudah menjadi sebuah Negara yang mendominasi setiap aspek
kehidupan manusia yang hidup di dalamnya. Ini berarti bahwa kaum Muslim sudah
dijamin untuk menjalankan cara hidup mereka tanpa ada hambatan.
Perkembangan lain juga terjadi
pada masa itu. Peradaban Muslim telah berkembang seiring dengan asas-asas dan
cara pandang Islam. Peradaban ini sangat
berbeda dari semua peradaban dalam segala seginya, dan membedakan dengan jelas
antara Muslim dan non-Muslim dalam perilaku moral, sosial dan budaya. Masjid
telah berdiri di semua wilayah, shalat telah dijalankan, dan imam untuk semua
tempat dan suku telah ditetapkan. Hukum sipil dan kriminal delah dirumuskan
secara rinci dan telah diberlakukan di seluruh lembaga pengadilan Islam.
Peraturan dagang dan komersial lama telah digantikan dengan yang baru. Hukum
nikah-talak, penyimpangan seksual, hukuman bagi pezina, pemitnah dan lain-lain
telah ditetapkan. Perilaku mereka, cara bicara mereka, pakaian mereka, cara
hidup mereka, budaya mereka dan lain-lain, telah terbentuk secara unik. Sebagai
hasil dari perubahan-perubahan ini, kaum non-Muslim tak lagi bisa berharap
bahwa para Muslim akan berbalik kepada keadaan lama mereka.
Sebelum perjanjian Hudaibiyah,
kaum Muslim mengalami hambatan berat untuk berda’wah kepada kaum non-Muslim
Quraisy. Tapi hambatan itu kemudian lenyap setelah perjanjian Hudaibiyah yang
sepintas tampak seolah kaum Muslim kalah, padahal sebenarnya mereka menang. Hal
ini bukan hanya membuat kaum Muslim merasa aman di dalam wilayah sendiri, tapi
juga menjadi leluasa untuk berda’wah kepada orang-orang di sekitar mereka.
Seiring dengan itu, Rasulullah pun mengirimkan surat-surat da’wahnya kepada
para penguasa Persia, Mesir, Romawi, dan para pentolan Arab. Inilah keadaan yang
berlangsung seiring dengan pewahyuan surat Al-Ma’idah.
Pokok-pokok bahasan
Surat Al-Ma’idah membahas, antara
lain topik-topik di bawah ini.
1.
Perintah dan petunjuk
tentang kehidupan beragama dan politik Muslim. Berkaitan dengan ini,
peraturan tentang ibadah haji telah ditetapkan; pelaksanaan manasik dan
penghormatan terhadap simbol-simbol ajaran Allah diperintahkan; dan segala
bentuk hambatan atau gangguan perjalanan menuju Ka’bah telah diharamkan. Segala
peraturan dan tata-cara versi jahiliyah telah dihapus. Makanan Ahli Kitab
dihalalkan, dan menikahi wanita mereka dibolehkan. Teknis berwudhu dan mandi,
juga tayamum, telah dijelaskan. Hukuman bagi pemberontak, pengacau dan pencuri
telah dirumuskan. Minuman keras dan judi telah dinyatakan terlarang secara mutlak.
Denda bagi pelanggar sumpah telah ditetapkan dan hukum pembuktian juga telah
dicantumkan.
2.
Peringatan bagi para
Muslim. Karena para Muslim telah menjadi bagian dari lembaga kekuasaan,
timbul kekhawatiran bahwa mereka akan melakukan penyimpangan (korupsi). Dalam
masa kejayaan yang penuh dengan ujian berat ini, Allah memperingatkan mereka
berulang-ulang untuk berpegang teguh pada keadilan dan menjaga diri secara
ketat dari perilaku salah yang telah diperbuat para pendahulu mereka dari Ahli
Kitab. Mereka diperintahkan untuk berpegang teguh pada janji kepatuhan terhadap
Allah dan rasulNya, dan untuk melaksanakan perintah dan larangan mereka, agar
mereka selamat dari akibat buruk yang menimpa Yahudi dan Nasrani yang telah
melanggar perjanjian. Mereka diperintah untuk melaksanakan ayat-ayat Al-Qurãn
dan dilarang bersikap munafik.
3.
Peringatan bagi Yahudi
dan Nasrani. Seiring melemahnya
kekuasaan Yahudi secara total, dan hampir semua tempat tinggal mereka di Arabia
utara telah jatuh ke dalam kekuasaan Muslim, mereka diperingatkan
berulang-ulang tentang kesalahan mereka, dan diajak untuk mengikuti Jalan Yang
Benar. Pada saat yang sama, ajakan serupa juga ditawarkan kepada kaum Nasrani.
Kesalahan iman mereka dijelaskan, dan mereka diwanti-wanti untuk mengikuti
bimbingan Rasulullah. Namun perlu dicatat bahwa dalam surat ini tak ada seruan khusus
kepada kaum Majusi (para pemuja api) dan kaum pemuja berhala, karena rupanya
tak dibutuhkan da’wah khusus bagi mereka, mengingat perilaku mereka sama saja
dengan kaum musyrik Arab secara umum. ***
***Sumber: Al-Quran Project, Saudi Arabia.
Kamis, 11 Desember 2014
INTISARI SURAT AN-NISÃ
Masa pewahyuan
Surat ini mencakup beberapa wacana yang diwahyukan dalam berbagai kesempatan selama periode kira-kira antara akhir tahun ke-3 Hijrah dari Makkah ke Madinah dan akhir tahun ke-4 atau awal tahun ke-5 Hijrah. Meski sulit untuk memastikan tanggal yang tepat penurunan ayat-ayatnya, namun bisa diperkirakan bahwa masa pewahyuannya yang benar dengan bantuan perintah-perintah dan kejadian-kejadian yang disebutkan di dalamnya, dan juga dengan bantuan sejumlah Hadis yang berhubungan dengannya. Beberapa contoh bisa diberikan seperti di bawah ini:
- Kita tahu bahwa petunjuk-petunjuk tentang pembagian warisan dari para shyahid dan penjagaan hak-hak anak yatim diwahyukan setelah Perang Uhud yang di dalamnya 70 orang Muslim terbunuh. Sehubungan dengan itu, otomatis persoalan tentang pembagian warisan para syahid itu dan pemeliharaan hak-hak anak yatim timbul di tengah banyak keluarga mereka di Madinah. Berdasar ini, kami menyimpulkan bahwa ayat 1 sampai 28 diwahyukan pada masa tersebut.
- Kita mengetahui melalui sejumlah Hadis bahwa perintah Shalat di waktu perang diwahyukan pada masa ekspedisi Zatur-Riqa’ãn yang terjadi pada tahun ke-4 H. Dari sini, kami menyimpulkan bahwa ayat 102 diwahyukan pada masa itu.
- Peringatan trakhir (ayat 47) terhadap Yahudi diberikan sebelum Banu Nadhîr diusir dari Madinah pada bulan Rabi’ul-Awwal tahun ke-4 H. Berdasar ini, bisa disimpulkan secara aman (tidak meragukan) bahwa ayat 47 pastilah diwahyukan sebelum peristiwa tersebut.
- Ijin untuk bertayamum (mengganti wudhu dengan debu yang bersih bila air tidak ditemukan) diwahyukan pada masa ekspedisi Banu Al-Mustaliq yang terjadi pada tahun ke-5 H. Berdasar itu bisa disimpulkan bahwa ayat 43 diwahyukan pada masa sekitar itu.
Pokok-pokok bahasan dan latar belakangnya
Sekarang mari kita perhatikan sejarah dan keadaan sosial pada masa itu, untuk membantu memahami surat ini. Secara keseluruhan, surat ini membahas tiga masalah utama yang dihadapi Rasulullah pada masa itu. Pertama, beliau harus menangani seluruh pembangunan Komunitas Islam yang telah terbentuk sejak masa hijrah. Demi tujuan itu, beliau memperkenalkan sebuah moral budaya sosial ekonomi dan politik yang baru, sebagai pengganti moral lama yang berlaku sebelum Islam. Masalah kedua yang menyita perhatian dan usaha beliau adalah perjuangan berat menangani persoalan yang terjadi di antara kaum musyrik Arab, suku-suku Yahudi, dan kaum munafik yang berusaha keras menentang misi reformasi beliau. Di atas segala masalah itu, beliau harus menda’wahkan Islam untuk melawan segala kekuatan setan yang terus menerus memikat hati banyak manusia.
Karena itu petunjuk-petunjuk untuk melakukan konsolidasi dan penguatan Komunitas Islam diberikan sebagai kelanjutan dari apa yang sudah diberikan dalam surat Al-Baqarah. Asas-asas untuk melancarkan urusan rumah tangga telah dibentangkan dan cara-cara penyelesaian perselisihan keluarga telah diajarkan. Peraturan-peraturan mengenai perkawinan dan hak-hak istri dan suami telah disejajarkan secara adil dan seimbang. Status wanita dalam masyarakat telah ditentukan dan maklumat tentang hak-hak anak yatim juga telah dibuat. Hukum dan undang-undang pembagian warisan telah ditetapkan, petunjuk-petunjuk untuk reformasi ekonomi juga telah diberikan. Dasar-dasar hokum telah diletakkan, minuman keras telah dilarang, peraturan untuk menjaga kebersihan dan kesucian pun telah diajarkan. Para Muslim telah diajari bagaimana menjalin hubungan baik dengan Allah dan dengan sesama mereka. Ajaran tentang disiplin dalam Komunitas Muslim pun telah diberikan.
Kondisi moral dan keagamaan Ahlul-Kitab telah pula ditinjau ulang sebagai pelajaran bagi para Muslim, dan mengingatkan para Muslim agar berhenti mengikuti langkah-langkah mereka. Perilaku kaum munafik pun mendapat kritikan, dan cici-ciri kemunafikan serta iman yang benar pun telah begitu jelas ditandai agar para Muslim dapat benar-benar membedakan keduanya.
Untuk mengatasi masalah setelah Perang Uhud, wacana-wacana penyemangat pun diajarkan untuk mendorong para Muslim agar menghadapi musuh dengan berani, karena kekalahan dalam perang tersebut telah menimbulkan keberanian suku-suku Arab musyrik terdekat dan Yahudi serta warga munafik, yang mengancam keselamat para Muslim dari berbagai jurusan. Dalam keadaan gawat itu, Allah mengisi jiwa para Muslim dengan semangat keberanian dan instruksi-instruksi yang mereka butuhkan dalam situasi berhawa perang. Untuk mengatasi desas-desus menakutkan yang disebarkan kaum munafik dan kemerosotan iman para Muslim sendiri, mereka diminta untuk memeriksa diri sendiri secara menyeluruh dan diberi informasi tentang orang-orang yang bertanggung-jawab atas keadaan mereka.
Kemudian mereka juga mengalami kesulitan melaksanakan shalat ketika menjalankan ekspedisi ke berbagai tempat yang tidak ada sumber air untuk berwudhu. Dalam keadaan demikian, mereka diijinkan untuk bertayamum dengan debu yang bersih, dibolehkan memendekkan shalat atau melakukan shalat khauf (shalat dalam keadaan khawatir diserang musuh). Bagi para Muslim yang tinggal secara tersebar di tengah bangsa Arab yang masih kafir dan suku-suku yang masih saling berperang, juga mendapatkan solusinya. Mereka disuruh berhijrah ke Madinah yang merupakan rumah Islam.
Surat ini juga membahas perihal Banû Nadhir yang memperlihatkan sikap bermusuhan dan mengancam, sebagai kebalikan dari perjanjian yang telah mereka sepakati bersama para Muslim (melalui Piagam Madinah). Mereka secara terang-terangan menunjukan pemihakan terhadap musuh-musuh Islam dan menelorkan rencana-rencana jahat untuk mencelakai Rasulullah dan Komunitas Muslim di dalam wilayah Madinah sendiri. Mereka diberi peringatan dan ancaman, sampai akhirnya diusir dari Madinah, karena tak kunjung berhenti menunjukkan sikap penentangan.
Masalah kemunafikan, yang demikian gawat pada waktu itu, telah menyebabkan para Mu’min terjebak dalam berbagai kesulitan. Karena itulah mereka dimasukan ke dalam golongan yang berbeda agar para Muslim dapat memperlakukan mereka secara tepat. Sikap yang benar terhadap suku-suku yang gemar berperang juga diajarkan.
Hal terpenting yang harus dilakukan pada waktu itu adalah mempersiapkan para Muslim untuk menghadapi perjuangan keras menghadapi musuh-musuh islam. Untuk itu membentukan karakter mereka menjadi untuk menjadi urusan utama, karena sangat jelas bahwa Komunitas Muslim yang kecil hanya bisa sukses, bahkan bertahan, bila mereka memiliki semangat juang yang tinggi. Karena itu, segi itulah yang mendapat penekanan keras, dan setiap kelemahan mereka dalam hal itu juga mendapat kritikan yang sangat keras.
Meski surat ini terutama menenkankan masalah reformasi moral dan sosial, masalah da’wah pun tak kurang ditonjolkan. Di satu sisi, keunggulan moralitas dan budaya Islam atas Yahudi, Kristen dan musyrik pun ditegaskan. Di sisi lain, kesalahan konsep-konsep keagamaan mereka, kesalahan moralitas mereka, kejahatan mereka juga dikecam, sebagai landasan untuk mengajak mereka pada jalan hidup yang benar.
Tema: Konsolidasi Komunitas Islam
Tujuan utama surat ini adalah mengajar kaum Muslim cara-cara untuk menjalin persatuan dan membuat mereka kokoh dan kuat. Pengantar-pengantar untuk membangun rumah tangga yang stabil, sebagai inti komunitas, juga diajarkan. Kemudian, mereka didesak untuk memperkuat benteng pertahanan diri. Dan seiring dengan itu, mereka juga diajari tentang pentingnya da’wah. Di atas segalanya, semangat juang yang tinggi dalam rangka konsolidasi Komunitas Islam sangat ditekankan. ∆
Sumber: Quran – Saheeh International Translation
Minggu, 07 Desember 2014
Catatan Ringkas Surat Ali-‘Imrān
Periode pewahyuan
Surat ini membahas empat
masalah: Masalah pertama (ayat 1-32) diperkirakan turun segera setelah Perang
Badar. Masalah kedua (ayat 33-63), turun pada tahun ke-9 H, pada masa kunjungan
perwakilan dari kaum Kristen Najran. Masalah ketiga (ayat 64-120), diperkirakan
turun tak lama setelah yang pertama. Masalah keempat (ayat 121-200), turun
setelah Perang Uhud.
Pokok bahasan
Meski wacana-wacana tersebut
diwahyukan pada masa-masa yang berbeda, namun semua saling berkaitan dan
berkesinambungan dengan tema pokok yang membuat semua menjadi kesatuan yang
utuh. Surat ini secara khusus dialamatkan kepada Ahli Kitab (Yahudi dan
Nasrani), dan para pengikut Nabi Muhammad.
Pesan yang disampaikai kepada
mereka di sini adalah kelanjutan dari pesan yang disampaikan dalam surat
Al-Baqarah, yang di sana mereka diperingatkan tentang kesalahan iman dan
kerusakan moral, dan dinasihati untuk menerima pemulihan kebenaran melalui
Al-Qurãn. Di sini mereka diberi tahu bahwa Muhammad diajari cara hidup yang
sama dengan para rasul mereka sendiri (yang berkebangsaan Yahudi); yang tak
lain merupakan Jalan Yang Lurus; sehingga setiap penyimpangan berarti salah,
bahkan menurut Kitab-Kitab mereka sendiri.
Sasaran kedua, para Muslim,
yang dalam surat Al-Baqarah telah dinyatakan sebagai umat terbaik (khairu
ummah) dan dipilih sebagai pembawa obor kebenaran, dipercaya untuk
menjalankan tugas membawa perbaikan bagi dunia. Hal ini ditegaskan kembali
dalam surat ini. Para Muslim diperingatkan untuk mengambil pelajaran dari
kemerosotan moral umat-umat terdahulu, karena mereka menyimpang dari jalan yang
benar. Mereka diingatkan tentang tugas yang bersifat memperbaiki keadaan.
Selain itu, mereka juga diajari bagaimana cara menghadapi para Ahli Kitab dan
kaum munafik yang mempunyai cara tersendiri dalam merintangi Jalan Allah. Di
atas segalanya, mereka juga diperingatkan untuk tidak mengulang kesalahan yang
mereka lakukan dalam Perang Uhud.
Latar belakang
Berikut
ini adalah latar belakang penurunan surat Ali ‘Imran:
1.
Para
Mu’min telah mengalami berbagai macam cobaan dan kesulitan yang sebelumnya
telah diinformasikan dalam surat Al-Baqarah. Meskipun mereka telah unggul dalam
Perang Badar, mereka belum bebas dari bahaya. Kemenangan mereka telah meningkatkan
rasa permusuhan semua penguasa di tanah Arab yang menentang gerakan Islam. Tanda-tanda
badai ancaman telah mulai bermunculan dari berbagai arah, membuat para Muslim
selalu dalam ketakutan dan kecemasan. Madinah, yang pada saat itu berukuran tak
lebih dari sebuah desa, tak ubahnya makanan empuk yang siap ditelan oleh
gabungan kekuatan yang ada di sekelilingnya. Keadaan darurat perang ini juga
diperparah oleh keadaan ekonomi yang memburuk setelah kedatangan para pengungsi
(muhajirun) dari Makkah.
2.
Selain
itu, di Madinah saat itu juga ada desa-desa Yahudi yang para penghuninya selalu
melancarkan gangguan. Mereka merusak perjanjian yang dibuat bersama Rasulullah.
Karena itulah dalam Perang Badar mereka memilih untuk berpihak kepada kaum
musyrik, meski secara kepercayaan kepada Allah, rasul, dan hari akhir mereka
sama dengan para Muslim. Setelah Perang Badar, mereka bahkan secara
terang-terangan menghasut kaum Quraisy dan suku-suku Arab lain untuk
melampiaskan dendam terhadap para Muslim. Demgan demikian suku-suku Yahudi itu
mengabaikan pertemanan mereka dengan suku-suku Arab Madinah yang telah terjalin
selama berabad-abad. Akhirnya, ketika sikap khianat dan pelanggaran janji
mereka sudah tak bisa dibiarkan lagi, Rasulullah pun melancarkan serangan pada
Banu Qainuqa, suku yang paling pengkhianat di antara mereka, yang telah
berkomplot dengan kaum munafik dan musyrik Arab Madinah untuk mengepung kaum
Muslim dari berbagai arah.Makin lama ancaman makin meningkat, sampai nyawa
Rasulullah pun ikut terancam. Karena itu, para sahabat selalu tidur dengan
membawa senjata, selalu melakukan ronda malam untuk berjaga-jaga dari serangan
mendadak mereka. Dan kapan saja Rasulullah hilang dari pandangan, mereka segera
sibuk mencari.
3.
Hasutan
dari Yahudi seolah menjadi bahan bakar bagi hati kaum Quraisy yang memang
dipenuhi dendam. Mereka mulai mempersiapkan diri untuk menebus kekalahan dalam
Perang Badar. Setahun setelah itu, mereka mengerahkan 3000 tentara untuk
menyerang Madinah. Di lain pihak, Rasulullah hanya bisa menghimpun 1000
tentara, untuk menyambut mereka di medan merang di dekat bukit Uhud. Dalam
perjalanan, 300 orang di antara mereka, kaum munafik, keluar dari pasukan dan
kembali ke Madinah. Sedangkan sebagian kecil dari mereka masih ikut dalam
pasukan yang tinggal 700 orang. Mereka memainkan peran untuk mengobarkan
pengkhianatan dan kekacauan dalam barisan Rasulullah ketika pertempuran
berlangsung. Ini merupakan isyarat awal bahwa di dalam jama’ah Muslim akan
selalu banyak musuh dalam selimut, yang akan selalu siap untuk bekerja-sama
dengan musuh dari luar.
4.
Kendati
aparat munafik telah memainkan perannya, kelemahan kaum Muslim sendiri tak
kurang berperan menyebabkan kekalahan dalam Perang Uhud. Dan agaknya itu
merupakan hal yang biasa bagi sebuah komunitas yang baru terbentuk oleh sebuah
ideologi, dan belum terlatih matang secara fisik maupun moral. Dengan
sendirinya, Perang Uhud merupakan ajang pelatihan fisik dan moral pertama yang
keras bagi mereka. Karena itulah Perang Uhud harus dipelajari secara cermat
untuk menyadarkan kaum Muslim akan kelemahan mereka, dan untuk memberikan
petunjuk-petunjuk demi perbaikan mereka. Perlu dicatat pula bahwa penelaahan
Perang Uhud di sini sangat berbeda dari yang biasa dilakakukan.
Bimbingan
Surat ini adalah sambungan
surat Al-Baqarah, dan dengan demikian juga merupakan undangan lanjutan bagi
para Ahli Kitab. Dalam Al-Baqarah, Yahudi diimbau secara langsung untuk
menerima gimbingan Allah. Dalam surat ini yang disapa langsung adalah kaum
Kristen. Mereka diminta untuk menyudahi kesalahan iman, dan diharapkan menerima
bimbingan Al-Qurãn. Pada saat yang sama, kaum Muslim diperintahkan untuk
menumbuh-suburkan kebenaran, yang bisa menjamin mereka untuk menunaikan tugas
menyebarkan Bimbingan Allah. ***
Selasa, 25 November 2014
Ada Yang Salah Paham!
- Ya ada yang salah paham, mengira bahwa KPA adalah semacam kelompok atau organisasi yang para anggotanya harus bertemu secara langsung di dunia nyata.
- Anggapan itu hanya separuh benar.
- Para nggota KPA bisa ngumpul secara langsung, dan tidak langsung (melalui internet).
- Jadi bagi anda yang tidak bisa 'kopi darat', silakan segera mendaftar sebagai anggota, melalui internet.
- Dengan menjadi anggota, anda bisa menerima tulisan-tulisan baru melalui alamat email anda.
- Silakan mendaftar!
Langganan:
Postingan (Atom)