Tampilkan postingan dengan label sastra Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 November 2013

Tanda Orang Menguasai Bahasa

Bagaimana tandanya bahwa seseorang layak disebut sudah menguasai suatu bahasa?

Bahasa itu seperti iman!

Maksud Anda?

Tentang iman, menurut hadis Abu Daud, adalah ‘aqdun bil-qalbi wa iqrãrun bil-lisãni wa ‘amalun bil-arkãnI(i). Yaitu, gampangnya, sesuatu yang ada di dalam kalbu, diungkapkan melalui lisan, dan diwujudkan dengan anggota badan. Atau dalam hadis versi Ibnu Najjar, yang dimulai dengan kalimat sangkalan: Laisal-îmãnu bit-tamanni wa lakinal-îmãnu mã wuqira fil-qalbi wa iqrãrun bil-lisãni wa ‘amalun bil-arkãnI(i). Iman bukanlah sesuatu yang berupa angan-angan atau khayalan, tapi sesuatu yang ‘menetap’ di dalam kalbu, dan seterusnya, sama seperti versi Abu Daud. …

Selasa, 29 Oktober 2013

Al-Qurãn Sebagai Kitab Sastra

Sudah jadi pengetahuan umum, di kalangan ulama tafsir, bahwa Al-Qurãn adalah sebuah kitab yang mempunyai nilai sastra yang tinggi.
Mungkin karena itulah pula, maka di dalam rentetan daftar "ilmu alat" untuk mempelajari Al-qurãn tercatat "ilmu balãghah", yang dulu disebut ilmu sastra Arab, tapi belakangan disetarakan dengan stilistika (stylistic), alias ilmu tentang gaya bahasa.

Minggu, 27 Oktober 2013

Al-Qurãn Sepintas Kilas (1)

Pembukaan

Surat pertama dari Al-Qurãn dinamai Al-Fãtihah, yang harfiahnya berarti pembuka atau pembukaan. Tapi tidak seperti pembukaan atau pendahuluan buku-buku pada umumnya, isi Al-Fãtihah ‘lebih mirip’ sebuah ikrar, atau sebuah proklamasi, atau semacam sumpah, yang dinyatakan oleh sekelompok orang, atau sebuah komunitas yang unik, yang diwaklili dengan kata ganti “kami”, yang justru baru muncul pada ayat 5 dan 6.
Ayat pertama sampai keempat dari surat ini adalah kalimat-kalimat langsung, kalimat-kalimat kata kerja (verbal), yang tidak lengkap, karena kata kerjanya tidak ditampilkan (la tuktabu wala tunthaq). Sebuah ciri dari bahasa lisan alias bahasa percakapan. Tapi, harap dicatat, kendati berupa bahasa percakapan, bahasa Al-Qurãn adalah bahasa yang bernilai sastra sangat tinggi, menandai narasumbernya sebagai ‘sastrawan lisan’ yang sangat piawai ‘bermain’ dengan bahasa!

Ya, bentuk bahasa Al-Qurãn memang bahasa percakapan bernilai sastra tinggi!

Tapi sastra Al-Qurãn bukanlah sastra yang rumit.

Sering kali, sastra Al-Qurãn tampak sangat sederhana, namun tak pernah kehilangan daya pukaunya.
Namun, betapa pun sederhananya sastra Al-Qurãn, ia sangat sulit – bahkan mustahil – untuk ditaklukkan oleh penerjemah dari bahasa apa pun.

Kemustahilan itu terutama terletak pada ciri sajaknya yang muncul konsisten dan tetap harmonis, tanpa kejanggalan, tetap kompak, tajam, dan selalu indah. Tak akan pernah anda temukan seorang pun penyair dunia yang mampu menulis syair panjang, yang mampu menjaga konsistensi sajaknya tanpa cacat. Hanya Sang Pencipta bahasa sendirilah yang mampu berkarya demikian.