Kamis, 20 Oktober 2016

Analisis Îmãn (5)

Analisis Îmãn (5)

Seperti Komputer
Ibarat komputer, otak membutuhkan dua jenis ‘makanan’ untuk bisa hidup. Makanan komputer yang pertama adalah listrik, yang kedua adalah sistem operasi. Dengan hanya diberi aliran tenaga listrik, komputer hidup. Tapi belum bisa bekerja. Karena baru bisa menarik input dan menghasilkan output yang amat sederhana. Ia baru bisa bekerja setelah diberi sistem operasi. Sistem operasi (operating system) inilah yang merupakan ‘program yang mengatur fungsi internal komputer dan mengendalikan operasi komputer.”[1] Setelah diberi sistem operasi, barulah komputer bisa menerima program-rogram yang lain, yang membuatnya bisa dugunakan untuk menulis, berhitung, menggambar, dan lain-lain. Sebelum diberi sistem operasi, komputer ibarat manusia yang baru lahir, yang bisa melihat dan mendengar, namun belum bisa memahami segala sesuatu yang dilihat dan didengarnya.
Sistem operasi komputer adalah program dasar yang berfungsi sebagai ‘penerjemah’ program-program yang lain. Pada otak manusia program dasar ini adalah bahasa. Bahasalah yang membuat otak manusia bisa berpikir, mampu menyerap ilmu, apa pun jenisnya, sehingga manusia bisa bergaul dengan lingkungannya.
Iman, seperti yang dapat kita pelajari dalam Hadits Jibril, pada hakikatnya adalah sebuah ‘program’ yang diajarkan Allah melalui malaikat dan rasul, lalu dibukukan menjadi sebuah kitab, yang diserap (dipahami) manusia melalui proses belajar, dengan bahasa sebagai alat utamanya.
Jadi bila sebuah hadits mengatakan: al-iiman ‘aqdun bil qalbi wa iqrarun bil-lisaani wa ‘amalun bil-arkaani, maka perlu diingat bahwa hadits ini tidak bisa diterjemahkan secara harfiuah, sebab cuma akan menghasilkan pemahaman yang dangkal dan melenceng dari tujuan.
Perlu diperhatikan bahwa ‘aqdun yang berkedudukan sebagai kata benda pada hakikatnya adalah hasil kerja al-qalbu. Bentuk kata kerjanya adalah ‘aqada yang secara harfiah berarti mengikat, merajut, melekatkan, dan sebagainya. Dalam ayat di atas (Al-Hujarat/49:14), iman disebut sebagai sesuatu yang ‘masuk’ (yadkhulu) ke dalam kalbu. Dengan demikian iman adalah:
Hasil abstraksi (pemahaman) kalbu, yang membentuk pola ucapan, dan mengarahkan segala tindakan (pada tujuan tertentu).

Atau, dalam bahasa Isa Bugis yang lebih ringkas, berdasar pemahaman atas hadits tersebut, iman adalah pandangan dan sikap hidup, dan lebih ringkasnya lagi, iman adalah hidup.
Sedangkan dalam istilah psikologi, iman pada hakikatnya adalah kepribadian.
Baik “pandangan dan sikap hidup”  maupun “kepribadian”, pada hakikatnya adalah hasil dari proses pemahaman atau proses belajar-mengajar (pendidikan) yang terus-menerus, proses pengulangan yang terus-menerus, sehingga akhirnya terbentuklah suatu pola tertentu baik dalam gaya bicara maupun bertindak.
Bila pola tertentu itu menjadi ciri umum suatu masyarakat, apalagi bila diwariskan secara terus-menerus, maka pola itu pun menjadi kebudayaan dan atau peradaban. Dengan kata lain, kebudayaan dan atau peradaban adalah iman dalam skala besar dan luas.
   
D. Iman Sebagai gaya Hidup
Bagian permukaan dari iman (segi kebahasaandan perilaku) melahirkan gaya hidup, yang dalam bahasa Latin disebut ethos.
Ethos dibentuk oleh etika, yang dalam bahasa Inggris disebut ethics dan dalam bahasa Arab disebut qawaa’idul-akhlaaq. Maka bagi yang memahami bahasa Arab, akan semakin jelas bahwa gaya hidup adalah suatu “hasil bentukan”, bukan sesuatu yang built-in (terpasang) sejak “dari sononya”, bukan “bakat semula jadi” ; karena dalam bahasa Arab gaya hidup itu disebut akhlãq, suatu istilah yang berpangkal dari kata khalaqa (menciptakan, menjadikan, membentuk, mengadakan, dsb.).

Berpangkal Etika
Etika adalah : Suatu sistem peraturan tentang apa yang benar atau salah secara moral, khususnya peraturan yang diikuti kelompok penganut agama atau orang-orang yang tergabung dalam kelompok profesi.[2] Dalam kaitan dengan penganut agama, etika Kristen tertentu berbeda dengan etika Islam. Dalam kaitan dengan kelompok profesi, kita mengenal apa yang disebut “kode etik” (code of ethics), yaitu etika yang mengikat setiap kelompok profesi. Dalam dunia kedokteran ada “kode etik kedokteran”, dalam dunia kewartawanan ada “kode etik jurnalistik” , dan seterusnya.
Etika merupakan cabang dari ilmu filsafat, yang konon lahir karena manusia merenungkan sifat dan kelakuannya, sehingga akhirnya berkembanglah pengertian tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi karena pemikiran manusia begitu beragam, maka lahirlah berbagai aliran etika, namun intinya terbagi menjadi dua aliran:

1.      Aliran Intuisionisme yang mempercayai adanya bisikan hati atau ilham. Bagi mereka, pandangan tentang baik dan buruk itu merupakan bawaan (bakat), yang terpasang dalam perasaan manusia.
2.      Aliran Empirisme, yang mengajarkan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman.

Kedua aliran itu kemudian ribut soal mana yang disebut baik mutlak dan mana yang nisbi. Di antara mereka ada yang menjadikan agama sebagai ukuran, ada yang mengajarkan bahwa yang paling banyaklah yang paling baik, ada pula yang meyakini bahwa individu adalah penentu kebenaran.
Mana yang harus dipilih? Kita bisa mengatakan bahwa kebenaran individu itu nisbi (relatif) dan karena individu itu kecil bila dibandingkan dengan masyarakat, maka kebenaran individu itu dapat dikalahkan oleh kebenaran masyarakat. Kemudian, bila kita gunakan agama sebagai tolok ukur, bisa jadi satu individu dikatakan benar karena ia mematuhi agama.
Tapi bukankah jumlah agama juga tidak hanya satu? Selain itu, dalam satu agama juga terdapat aliran-aliran, yang memusingkan kita untuk menunjuk mana yang benar.
Al-Qurãn mengajukan satu rumusan bahwa konsep yang benar itu berasal dari Allah. Bila manusia tidak menyetujui konsep Allah, silakan membuat konsep sendiri. Tapi menurut Al-Qurãn pula, manusia tak akan mampu membuat konsep yang setara dengan konsep Allah meskipun bekerja sama dengan jin (Al-Baqarah 2:23-24; Al-Israa’ 17:88). Dengan kata lain, konsep yang benar adalah konsep yang paling siap menghadapi tantangan. Selain itu, Al-Qurãn juga menegaskan bahwa konsep yang benar itu harus sesuai dengan fitrah (nature) manusia, dan harus mampu menjamin manusia bebas dari ketakutan serta duka-ciata.




[1] Byran Pfaffenberger, Ph.D., Kamus Komputer Andalan QUE, Dinastindo, 1994.
[2] Longman Language Activator.

Rabu, 19 Oktober 2016

Analisis Iman (4)

Image result for Hati


Pengertian kalbu
Samakah pengertian kalbu (qalbun, al-qalbu) dengan “hati” dalam bahasa Indonesia? Bila bicara tentang hati, orang Indonesia pada umumnya menyebutkan sesuatu yang menjadi tempat bersarangnya berbagai perasaan, dan mereka biasa mengisyaratkan tangan ke dada, seolah-olah hati (perasaan) itu terletak di dalam dada. Sedangkan bila berbicara tentang akal atau pikiran, umumnya orang menunjuk kepala.
Menurut ilmu urai tubuh (anatomi) kita berpikir dan merasa dengan otak. Dalam kamus Psychology, Dali Gulo menggambarkan otak sebagai “bagian dari sistem syaraf yang terbungkus dalam tengkorak kepala dan merupakan pusat motivasi, pemikiran, pengolahan dan penyampaian apa-apa yang diperoleh dari indera.”
Floyd L. Ruch dalam Psychology and Life memberikan gambaran tentang otak demikian:

In the last analysis the superiority of man over the lower forms derives from his superior ability to think and plan, utilizing objects both present and absent in overcoming his problems. This ability is the result of a larger, more complex brain, which operates with intricate division of labor and with more control over the rest of nervous system than we find in any of the lower forms. Perception, thought, consciousness itself depend on the brain for their occurrence. Clearly, then, if we are to … study all the behaviour, motives, and emotions growing out of the interaction between man and his ewnvironment, our picture must include a working understanding of the brain.

(Penelitian terakhir membuktikan bahwa keunggulan manusia atas makhluk-makhluk lain yang lebih rendah terletak pada kemampuannya yang istimewa untuk berpikir dan membuat rencana, serta memanfaatkan barang, baik yang ada maupun yang tidak ada untuk menyelesaikan berbagai masalahnya. Kemampuan ini adalah berkat dari otak manusia yang lebih besar dan lebih rumit, yang beroperasi dengan pembagian kerja yang ruwet dan lebih mampu mengendalikan sistem saraf dibandingkan dengan yang kita temukan pada makhluk-makhluk lain yang lebih rendah. Persepsi (pendapat), pemikiran, dan kesadaran  itu sendiri keberadaannya tergantung pada otak. Jadi, jelaslah, bila kita hendak mempelajari segala perilaku, dorongan-dorongan, dan berbagai perasaan yang tumbuh sebagai akibat pergaulan manusia dengan lingkungannya, gambaran kita harus disertai pemahaman yang baik tentang otak).        

Setelah memerhatikan gambaran tentang otak, mari kita periksa gambaran tentang kalbu dalam al-Qurãn, misalnya dalam Surat al-A’raaf 7:179:

 “Bagi jahanam sungguh telah Kami sediakan banyak jin dan manusia, yang telah kami bekali qalbu tapi tidak mereka gunakan untuk memahami (ajaran Kami), yang telah kami bekali mata tapi tidak digunakan untuk melihat (bukti kebenaran ajaran Kami), yang telah Kami bekali telinga tapi tidak digunakan untuk menyimak (penjelasan tentang ajaran Kami). Mereka itu ibarat hewan piaraan, bahkan lebih tolol  lagi. Mereka adalah para pengabai (kesempatan untuk meraih keberuntungan, dengan melaksanakan ajaran Allah).”

Sedangkan dalam Surat an-Nahl 16:78 Allah menegaskan pula:
 “ … Allah mengeluarkan kalian dari kandungan ibu kalian dalam keadaan tidak tahu apa-apa tapi dibekalinya kalian dengan alat pendengaran, alat penglihatan, dan fuad, supaya kalian gunakan dengan sebaik-baiknya (bersyukur).”

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa kalbu (qalbun, jamaknya qulubun) sama dengan fuad (fuadun, jamaknya af-idah) yang fungsinya berkaitan dengan fungsi indera, terutama indera penglihatan dan pendengaran, yang keduanya sangat berperan dalam kehidupan manuysia yang mempunyhai otak lebih besar dari otrak hewan. Kamus pun menyamakan kalbu dengan akal (al-aqlu), fuad, dan batin, atau quwwatul-idraak (daya tanggap), atau al-fahmu (faham, pengertian). Hans Wehr dan J. Milton Cowan dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, mengartikan kalbu sebagai mind (pikiran), soul (jiwa), dan spirit (ruh). Jadi jelaslah bahwa kalbu tidak sama dengan hati dalam arti perasaan saja. Terjemahan yang tepat untuk kalbu dalam bahasa Indonesia adalah jiwa, yang di dalamnya terdapat pikiran dan perasaan, dan otak secara fisik mungkin merupakan ‘sarang’-nya. Sedangkan secara ruhani, otak dan jiwa adalah identik (sama); dalam arti bahwa pembicaraan tentang jiwa manusia selalu berkaitan dengan sesuatu yang mengisi otak ragawi.
Al-qalbu (jiwa, otak) yang ‘berkantor pusat’ di kepala itulah yang mencari input (masukan) melalui dua indera yang paling dominan, yang berkali-kali disebut dalam Qur’an, yaitu telinga dan mata.
Lalu bagaimana dengan sebuah hadis yang menceritakan Rasulullah menunjuk dada ketika beliau menyebut al-qalbu? Jawabnya adalah bahwa dada secara fisik-anatomis berisi paru-paru dan jantung, tidak berisi liver yang biasa diterjemahkan sebagai hati (yang letaknya di perut sebelah kanan). Jadi, bila dipahami harfiah, Nabi Muhammad salah dengan menunjuk hati ada di dada. Lalu? Yang logis adlah dengan memahaminya secara majas, yaitu bahwa beliau menunjuk dada bukanlah dada dalam arti fisik; tapi yang dimaksud adalah dada (beliau tidak menyebut dada, tapi menunjuknya sambil berkata ha hunna, di sini) adalah “diri”. (Manusia biasa menunjuk dadanya ketika yang ditunjuk adalah dirinya!).
Bagaimana pun, bila kita kembali kepada surat Al-‘A’rãf ayat 179, kalbu secara fungsional adalah álat untuk memahami”, dan itu secara fisik maupun psikologis mengacu pada fungsi otak.



                                                                                                
Image result for Hati


Pengertian kalbu
Samakah pengertian kalbu (qalbun, al-qalbu) dengan “hati” dalam bahasa Indonesia? Bila bicara tentang hati, orang Indonesia pada umumnya menyebutkan sesuatu yang menjadi tempat bersarangnya berbagai perasaan, dan mereka biasa mengisyaratkan tangan ke dada, seolah-olah hati (perasaan) itu terletak di dalam dada. Sedangkan bila berbicara tentang akal atau pikiran, umumnya orang menunjuk kepala.
Menurut ilmu urai tubuh (anatomi) kita berpikir dan merasa dengan otak. Dalam kamus Psychology, Dali Gulo menggambarkan otak sebagai “bagian dari sistem syaraf yang terbungkus dalam tengkorak kepala dan merupakan pusat motivasi, pemikiran, pengolahan dan penyampaian apa-apa yang diperoleh dari indera.”
Floyd L. Ruch dalam Psychology and Life memberikan gambaran tentang otak demikian:

In the last analysis the superiority of man over the lower forms derives from his superior ability to think and plan, utilizing objects both present and absent in overcoming his problems. This ability is the result of a larger, more complex brain, which operates with intricate division of labor and with more control over the rest of nervous system than we find in any of the lower forms. Perception, thought, consciousness itself depend on the brain for their occurrence. Clearly, then, if we are to … study all the behaviour, motives, and emotions growing out of the interaction between man and his ewnvironment, our picture must include a working understanding of the brain.

(Penelitian terakhir membuktikan bahwa keunggulan manusia atas makhluk-makhluk lain yang lebih rendah terletak pada kemampuannya yang istimewa untuk berpikir dan membuat rencana, serta memanfaatkan barang, baik yang ada maupun yang tidak ada untuk menyelesaikan berbagai masalahnya. Kemampuan ini adalah berkat dari otak manusia yang lebih besar dan lebih rumit, yang beroperasi dengan pembagian kerja yang ruwet dan lebih mampu mengendalikan sistem saraf dibandingkan dengan yang kita temukan pada makhluk-makhluk lain yang lebih rendah. Persepsi (pendapat), pemikiran, dan kesadaran  itu sendiri keberadaannya tergantung pada otak. Jadi, jelaslah, bila kita hendak mempelajari segala perilaku, dorongan-dorongan, dan berbagai perasaan yang tumbuh sebagai akibat pergaulan manusia dengan lingkungannya, gambaran kita harus disertai pemahaman yang baik tentang otak).        

Setelah memerhatikan gambaran tentang otak, mari kita periksa gambaran tentang kalbu dalam al-Qurãn, misalnya dalam Surat al-A’raaf 7:179:

 “Bagi jahanam sungguh telah Kami sediakan banyak jin dan manusia, yang telah kami bekali qalbu tapi tidak mereka gunakan untuk memahami (ajaran Kami), yang telah kami bekali mata tapi tidak digunakan untuk melihat (bukti kebenaran ajaran Kami), yang telah Kami bekali telinga tapi tidak digunakan untuk menyimak (penjelasan tentang ajaran Kami). Mereka itu ibarat hewan piaraan, bahkan lebih tolol  lagi. Mereka adalah para pengabai (kesempatan untuk meraih keberuntungan, dengan melaksanakan ajaran Allah).”

Sedangkan dalam Surat an-Nahl 16:78 Allah menegaskan pula:
 “ … Allah mengeluarkan kalian dari kandungan ibu kalian dalam keadaan tidak tahu apa-apa tapi dibekalinya kalian dengan alat pendengaran, alat penglihatan, dan fuad, supaya kalian gunakan dengan sebaik-baiknya (bersyukur).”

Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa kalbu (qalbun, jamaknya qulubun) sama dengan fuad (fuadun, jamaknya af-idah) yang fungsinya berkaitan dengan fungsi indera, terutama indera penglihatan dan pendengaran, yang keduanya sangat berperan dalam kehidupan manuysia yang mempunyhai otak lebih besar dari otrak hewan. Kamus pun menyamakan kalbu dengan akal (al-aqlu), fuad, dan batin, atau quwwatul-idraak (daya tanggap), atau al-fahmu (faham, pengertian). Hans Wehr dan J. Milton Cowan dalam A Dictionary of Modern Written Arabic, mengartikan kalbu sebagai mind (pikiran), soul (jiwa), dan spirit (ruh). Jadi jelaslah bahwa kalbu tidak sama dengan hati dalam arti perasaan saja. Terjemahan yang tepat untuk kalbu dalam bahasa Indonesia adalah jiwa, yang di dalamnya terdapat pikiran dan perasaan, dan otak secara fisik mungkin merupakan ‘sarang’-nya. Sedangkan secara ruhani, otak dan jiwa adalah identik (sama); dalam arti bahwa pembicaraan tentang jiwa manusia selalu berkaitan dengan sesuatu yang mengisi otak ragawi.
Al-qalbu (jiwa, otak) yang ‘berkantor pusat’ di kepala itulah yang mencari input (masukan) melalui dua indera yang paling dominan, yang berkali-kali disebut dalam Qur’an, yaitu telinga dan mata.
Lalu bagaimana dengan sebuah hadis yang menceritakan Rasulullah menunjuk dada ketika beliau menyebut al-qalbu? Jawabnya adalah bahwa dada secara fisik-anatomis berisi paru-paru dan jantung, tidak berisi liver yang biasa diterjemahkan sebagai hati (yang letaknya di perut sebelah kanan). Jadi, bila dipahami harfiah, Nabi Muhammad salah dengan menunjuk hati ada di dada. Lalu? Yang logis adlah dengan memahaminya secara majas, yaitu bahwa beliau menunjuk dada bukanlah dada dalam arti fisik; tapi yang dimaksud adalah dada (beliau tidak menyebut dada, tapi menunjuknya sambil berkata ha hunna, di sini) adalah “diri”. (Manusia biasa menunjuk dadanya ketika yang ditunjuk adalah dirinya!).
Bagaimana pun, bila kita kembali kepada surat Al-‘A’rãf ayat 179, kalbu secara fungsional adalah álat untuk memahami”, dan itu secara fisik maupun psikologis mengacu pada fungsi otak.



                                                                                                

Selasa, 18 Oktober 2016

Analisis Îmãn (3)

  1. Arti Kata Iman
      Ditinjau dari ilmu sharaf (morfologi/teori bentuk kata), iman (إيمان) adalah masdhar dari kata kerja bentuk lampau ( fi’il madhiãmana  (آمن), yaitu fi’il madhi yang berkedudukan muta’addi (berobyek).
Kata-kata dalam bahsa Arab pada umumnya terdiri dari tiga huruf. Bila lebih dari tiga  huruf, berarti ada huruf(-huruf) tambahan. Kata ãmana (ءامن) terdiri dari empat huruf. Berarti ada tambahan satu huruf  pada kata asalnya, amina (pola fa’ila), dan bisa amuna (pola fa’ula). Kata-kata tersebut berarti: amantenteramselamatjujurlurus, dsb. Kata-kata ini dalam bahasa Indonesia tergolong kata sifat atau kata keadaan. Tapi dalam bahasa Arab semua merupakan kata kerja lampau yang tidak mempunyai obyek, yaitu tidak ada sasaran atau korban kerjanya. Kata kerja seperti ini dinamakan fi’il lazim (intransitive verb).
Fi’il lazim bisa diubah menjadi fi’il muta’addi (transitive verb) dengan cara menggunakan pola lain. Misalnya dari pola fa’ala (فعل) dipindahkan ke pola af’ala (افعل).
Dengan menggunakan pola af’ala, maka kata amanaamina, dan amuna menjadi ãmana.
Berganti pola berganti makna. Kata kerja yang semula pasif bisa menjadi aktif, misalnya, kata lari, misa menjadi melarikan (membawa lari sesuatu. Atau membuat sesuatu berlari).
Demikian juga kata amana/amina/amuna yang berarti amantenteramselamatjujurlurus, dsb., setelah dipindah ke pola af’ala, menjadi ãmana, artinya berubah menjadi: mengamankanmenenteramkanmenyelamatkanmeluruskan, dsb.
Ĩmãn, adalah masdhar dari kata kerja ãmana. Menurut teori bahasa, masdhar (مصدر) adalah infinitive (kata kerja asli) atau verbal noun (kata benda yang berkaitan dengan kata kerja).
Alhasil, masdhar dari ãmana, yaitu îmãn, bisa berarti: tindakan mengamankan/menenteramkan/menyelamatkan/meluruskan, dsb.
Kata îmãn ini dalam ilmu sharaf selain berkedudukan sebagai masdhar, juga disebut isim nakirah, yaitu kata benda yang mempunyai pengertian umum. Tapi setelah diberi tambahan huruf alif dan lam, sehingga menjadi al- îmãn (الإيمان), maka ia berubah menjadi isim ma’rifat, yaitu kata benda yang mempunyai pengertian khusus.
Pertanyaan kita selanjutnya adalah: siapakah yang berhak memberikan makna khusus pada suatu kata? Jawabnya adalah: siapa pun berhak, asal mempunyai otoritas (wewenang) atau mampu memberikan pertanggungjawaban yang layak, alias bukan asal-asalan.
Ada dua pihak yang mempunyai kemungkinan mempengaruhi makna kata iman, yaitu bangsa Arab dan Allah. Orang Arab memperkenalkan kata iman kepada kita dalam rangka da’wah Islam. Islam adalah agama Allah, bukan agama Arab. Karena itu jelaslah bahwa yang mempunyai otoritas (wewenang) untuk memberikan makna khusus pada kata iman adalah Allah, bukan orang Arab.
Sehubungan dengan hal itu, marilah kita periksa Surat al-Hujarat ayat 14-15:
Orang-orang Arab itu mengatakan, “kami beriman.” Tegaskan kepada mereka (hai Muhammad), “Kalian belum beriman. Sebaiknya kalian katakan saja, ‘Kami menyerah’ . Karena iman itu belum masuk ke dalam jiwa kalian. Tapi bila kalian hendak mematuhi Allah dengan meneladani rasaul-Nya, (silakan saja), karena Dia (Allah) tidak akan mengurangi nilai amal kalian sedikit pun. Sungguh Allah – dengan ajaranNya – adalah mahamampu menciptakan perbaikan hidup serta mahapewujud kehidupan kasih-sayang.
Para mu’min sejati adalah mereka yang mengimani (ajaran) Allah dengan meneladani rasuk-Nya sampai tidak tersisa sedikit pun keraguan untuk memperjuangkan iman mereka dengan mempertaruhkan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka adalah orang-orang yang tulus membuktikan iman.
Dalam ayat ini  terdapat kata lam yartabû (), yang artinya mereka tidak mempunyai keraguan. Orang yang tidak mempunyai keraguan berarti orang yang yakin. Tapi ingat, jangan samakan yakin dengan percaya, karena yakin (yaqîn) menurut kamus berarti tahu pasti[1].  Jelasnya, yang berhak mengatakan dirinya mempunyai keyakinan hanyalah orang yang tahu pasti tentang sesuatu. Dalam kaitan dengan ayat di atas, jelas digambarkan bahwa si mu’min adalah orang yang tahu pasti tentang kebenaran ajaran Allah, sehingga tidak ragu-ragu untuk memperjuangkannya dengan mempertaruhkan harta dan jiwa.
Rasulullah saw. menegaskan dengan sabdanya:
ليس الإمان بالتمنّى و لكن الإمان ما وُقِر فى القلب و إقرار بالسان و عمل بالأركان
Iman  itu bukanlah angan-angan tapi sesuatu yang diyakini kalbu dengan mantap, (yang lahir menjadi) ikrar lisan, serta didukung dengan tindakan. (Hadits Riwayat Ibnu Najjar).
Dalam Hadits ini terdapat kata wuqira, bentuk pasif dari waqara, yang artinya antara lain, menempatkan di tempat yang amanmemastikanmengajukan fakta yang kuat, dsb. Menurut Hans Wehr, salah satu arti waqara adalah to be settledcertainan established fact. (meyakini fakta yang tak dapat dipungkiri). Dengan kata lain, waqara adalah pengakuan terhadap sesuatu yang axiomatic alias obviously true (tidak terbantah kebenarannya). 
Jadi menurut Hadits ini iman adalah sesuatu yang ditempatkan di tempat yang aman, tidak akan terusik oleh siapa pun, yaitu di dalam kalbu. Alasan penempatyannya adalah karena ‘sesuatu tersebut mempunyai nilai yang pasti, dan didukung kebenaran nilainya oleh fakta yang kuat. Selanjutnya, ‘sesuatu’ yang tersimpan dalam kalbu itu secara otomatis akan lahir dalam berbagai bentuk ucapan dan tindakan atau perilaku orang yang bersangkutan.

[1] Periksa Kamus Al-MunawwirMu’jamul-lughatil-‘Arabiyyatil-Mu’asahirah (A Dictionary of Modern Written Arabic), kamus al-Munjid, dll.
[2] Periksa Kamus Al-MunawwirMu’jamul-lughatil-‘Arabiyyatil-Mu’asahirah (A Dictionary of Modern Written Arabic), kamus al-Munjid, dll.

Senin, 17 Oktober 2016

Analisis Îmãn (2)

Kesenangan Berfantasi

      Mohammad Hatta menulis dalam bukunya yang terkenal, Alam Pikiran Yunbani[1], bab Pendahuluan, hal. 1-3:

            Tiap-tiap bangsa, betapa juga biadabnya, mempunyai dongeng tahyul. Ada yang terjadi daripada kisah perintang hari, keluar dari mulut orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi daripada muslihat mempertakuti anak-anak, supaya ia jangan nakal. Ada pula yang karena keajaiban alam, yang menjadi pangkal heran dan takut. Dari itu orang menyangka alam ini penuh dengan dewa-dewa serta biduanda dan bidadarinya yang bermacam-macam namanya demikianlah lama-kelamaan timbul berbagai fantasi, cetakan pikiran, yang menjadi barang peradaban manusia bermula.
            Fantasi itu tidak ada batasnya, sebab ia tidak bersangkutan dengan yang lahir. Keadaannya tidak dapat dibenarkan. Oleh karena itu, fantasi itu menjadi pangkal juga daripada perasaan yang indah-indah, pangkal dari pada seni, pangkal daripada “pengetahuan” yang ajaib-ajaib. Fantasi membawa orang yang meminangnya ke awang-awang, keluar daripada bumi dan alam tempat ia berdiri. Dengan fantasi itu ia dapat menyatukan ruhnya dengan alam sekitarnya. Ia merasa dirinya bagian daripada alam. Fantasi yang sampai ke sana disebut juga extase.[2]
            Orang yang mengadakan fantasi tidak ingin mencari kebenaran buah fantasinya, karena kesenangan ruhnya adalah terletak dalam fantasi itu, ada yang ingin hendak mengetahui kebenarannya lebih jauh. Di antaranya ada yang tidak lekas percaya, ada yang bersifat kritis, suka membanding dan menguji. Demikianlah, dari fantasi itu timbul lama-kelamaan keinginan akan kebenaran.
            Dongeng dan tahyul yang dipusakakan dari nenekmoyang itu menimbulkan adat dan kebiasaan hidup, yang menjadi cermin jiwa bangsa yang memakainya. Pengetahuan pusaka itu bertambah lama bertambah banyak, ditambah dengan pengalaman tiap-tiap angkatan baru. Semuanya itu masuk ke dalam perbendaharaan peradaban bangsa, yang disebut kultur. Semuanya itu menjadi pimpinan bagi angkatan kemudian menempuh jalan penghidupan. Sebab itu “kata” dan “nasehat”  orang tua-tua sangan diindahkan.
            Dongeng dan tahyul serta adat-istiadat itu berpengaruh kemudian atas cara orang memeluk agamanya. Agama yang datang kemudian mendapati alam ini penuh dengan berbagai kepercayaan. Kepercayaan alam itu tak mudah membongkarnya dengan seketika saja. Ia bertahan. Itulah sebab, maka agama yang begitu murni dasarnya, dalam masyarakat banyak bercampur dengan barang pusaka hidup yang tersebut itu. Sebab itu tak salah orang mengatakan, bahwa cara orang memahamkan agamanya banyak terpengaruh oleh keadaan hidupnya.
            Juga orang Grik dahulunya banyak mempunyai dongeng dan tahyul. Tetapi yang ajaib pada mereka itu ialah, bahwa angan-angan yang indah-indah itu menjadi dasar untuk mencari pengetahuan semata-mata untuk tahu saja, dengan tiada nengharapkan keuntungan daripada itu. Ingin tahu menjadi ujud sendirinya bagi mereka.
            Berhadapan senantiasa dengan alam yang begitu luas, yang sangat bagus dan ajaib tampaknya pada malam hari, timbul di hatinya keinginan hendak mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan dalam hatinya, dari mana datangnya alam ini, betapa jadinya, bagaimana kemajuannya dan ke mana sampainya. Demikianlah beratus tahun alam besar itu menjadi soal dan pertanyaan, yang memikat perhatian ahli-ahli pikir Grik.
            Tetapi kemudian di sebelah soal alam besar itu, yang berada di luar dirinya, terdapat olehnya soal alam kecil, yang berada di dalam dirinya. Alam ini tiada terlihat dengan mata, melainkan dapat dirasai saja. Lalu timbul pertanyaan dalam hatinya: apa ujud lahirku, apa kewajiban hidupku? Betapa seharusnya sikapku, dan di mana kudapat bahagia?
            Begitulah jadinya soal alam dalam pikiran: Di sebelah soal kosmologi (kosmos= alam besar) timbul keinsyafan dalam hati tentang kewajiban hidup, soal etik.
Di mana orang Grik dahulu kala semuanya itu satu soal saja, satu pokoknya: satu kebenaran. Sebab itu ilmunya cuma satu saja, yang kemudian diberi nama “philosophia” Philosophia artinya “cinta akan pengetahuan”.

Uraian ini dibuat Mohammad Hatta untuk menggambarkan asal-usul timbulnya ilmu filsafat, yang dianggap sebagai induk segala ilmu, yang katanya bermula dari khayal atau fantasi. Khayal atau fantasi ini kemudian menjadi adat-istiadat, yang selanjutnya masuk ke dalam peradaban atau kultur suatu bangsa, dan berpengaruh terhadap cara orang memeluk agamanya. Agama yang datang belakangan(?) harus berhadapan dengan berbagai kepercayaan yang begitu kuat bertahan. Cuma tidak dikatakan oleh Hatta bahwa agama bukan cuma harus menghadapi berbagai kepercayaan tapi juga berbagai filasafat. Bahkan dengan meluasnya pengaruh filsafat Yunani (yang merupakan sumber kebudayaan Barat) di kalangan umat Islam, lahirlah berbagai aliran ilmu Kalam yang meramaikan kancah perselisihan umat.

Filsafat dikatakan bertugas untuk seek out hidden meanings of thing  (mencari makna-makna yang tersembunyi di balik benda nyata). Dari filsafat ilmu pengetahuan alam sebagai ilmu yang berdiri sendiri, pada abad tujuhbelas, seperti kata Bierens de Haar, seabad kemudian lahir ilmu ekonomi, dan pada awal abad sembilanbelas lahir ilmu sosial.[3]
Filsafat sendiri akhirnya melahirkan berbagai cabang, seperti dipaparkan Hunt dan Pudjawijatna:
Teka-teki tentang asal mula serta perkembangan alam semesta dipelajari oleh kosmogoni.
Persoalan tentang apakah alam semesta ini terdiri dari satu, dua atau banyak kenyataan (reality) dipelajari oleh ontologi. Jika terdapat anggapan bahwa alam semesta ini terdiri dari satu kenyataaqn terdapatlah aliran monisme. Yang menganggap dua kenyataan ialah dualisme, sedangkan pluralisme menganggap bahwa alam semesta ini terdiri dari berbagai kenyataan.
Dualisme yang menganggap bahwa ide lah yang primer, sedangkan materi sekunder adalah idealisme. Sebaliknya apabila materi dianggap melahirkan ide, pandangan tersebut adalah pandangan penganut materialisme.
Persoalan kemungkinan tentang ilmu pengetahuan manusia dipelajarui oleh epistemologi, persoalan tentang baik atau jahat dipelajari oleh ethica, persoalan indah dan buruk dipelajari oleh aestethica, dan persoalan tentanag kebenaran dan kekeliruan dipelajari oleh logika (mantik).
Persoalan-persoalan yang menyangkut alam ghaib, misalnya persoalan tentang hakekat Tuhan, hari akhirat, kadar dan lain-lain dipelajari oleh metafisika.
Di Indonesia metafisika biasa diterjemahkan dengan kebatinan.[4] 
           
Demikianlah dengan pola pikir yang menganggap bahwa filsafat merupakan induk segala ilmu (pengaruh Barat/Yunani lewat sekolah), dapat kita lihat bahwa persoalan berkenaan dengan alam ghaib (Tuhan, akhirat, qadar dsb.) dimasukkan ke dalam cabang fiulsafat yang bernama metafisika, yang berarti non-lahiriah atau bukan benda, yang di Indonesia berarti kebatinan!
Paham bahwa filsafat merupakan induk segala ilmu, kendati berasal dari Barat, kini telah menjadi paham manusia terpelajar sedunia. Maka, seperti kata Mohammad Hatta, agama Islam yang datang belakangan, harus berhadapan dengan kenyataan ini, dan akhirnya, mau tak mau, harus pula masuk kotak metafisika alias kebatinan.
Kebatinan dalam ensiklopedi umum, terbitan Kanisius didefinisikan sebagai: Suatu bentuk atau alam kepercayaan.
Dalam paham bangsa Indonesia umumnya kepercayaan atau keyakinan adalah identik dengan agama, sehingga agama pun dapat didefinisikan sebagai salah satu bentuk atau alam kepercayaan. Dengan demikian, jelaslah bahwa agama adalah bagain dari kebatinan (metafisika).
Jadi, tidak perlu heran bila berbicara tentangt iman sebagai bagian pokok dari agama, orang lantas sepakat mengatakan bahwa iman adalah kepercayaan. Bukan hanya bangsa Indonesia yang mengatakan begitu, tapi juga semua bangsa di dunia. Dalam bahasa Inggris misalnya, kepercayaan disebut belief, yang artinya adalah: menerima sesuatu sebagai kebenaran, meskipun kita tidak dapat memastikan bahwa itu benar. Sedangkan iman dalam bahasa Inggris adalah faith, yang berarti: kepercayaan teguh akan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya.[5] Dalam Kamus al-Munjid (yang bisa dikatakan mewakili pandangan Arab, iman dikatakan sebagai at-tashdiqu muthlaqan, kepercayaan mutlak, atau pembenaran semata. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa pandangan Arab tentang iman sama dengan pandangan manusia-manusia lain di dunia secara umum.
Yang menjadi pertanyaan kita sekarang adalah:
-         Bagaimanakah Allah melalui Rasul-Nya menjelaskan tentang iman?
-         Benarkah iman termasuk dalam kelompok metafisika?




[1] Terbitan universitas indonesia (UI - Press), 1986.
[2] Extase (Latin, ecstasis) : pesona; in extase, terpesona, sehingga lupa segala-galanya.

[3] Ilmu Flsafat Agama, Achmad Roestandi, SH, Yayasan lembaga Pengarang & Penerbit/ Yayasan Universitas Islam Nusantara, bandung, 1970 , hal. 32; 34.
[4] Ilmu Filsafat Agama, Achmad Roestandi, SH., hal 35-37.
[5] Drs. Peter salim, Synonym Studies, Modern english Press, jakarta, 1982.

Minggu, 16 Oktober 2016

Analisis Îmãn (1)


I.       TINJAUAN HARFIAH

A.  Pandangan Dunia tentang Iman
Secara umum orang mengatakan bahwa iman terletak di hati, sehingga dengan demikian iman adalah urusan hati; dan karena fungsi hati adalah untuk mempercayai, maka iman adalah soal kepercayaan.
     Perhatikanlah doktrin berikut ini, yang dikemukakan para pakar agama Islam kepada para mahasiswa perguruan tinggi umum:

     Iman mempunyai 2 (dua) arti: percaya dan kepercayaan. Arti yang pertama menggambarkan tentang sikap mental atau jiwa dari seseorang yang mempercayai dan meyakini sesuatu, sedang arti yang kedua menunjuk kepada sesuatu yang dipercayai itu. Kepercayaan dalam Islam tersimpul dalam rukun Iman yang enam, yaitu: Percaya kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhirat dan Qadha’-Qadar-Nya.
Iman ialah masalah ghaib yang tidak dapat dijangkau dengan akal dan pengalaman empiris. Ia hanya dapat diyakini dengan hati atau rasa dan bukan dengan rasio/otak. Namun demikian rasio atau akal dapat dijadikan sarana untuk mencapai iman dan memperteguh iman, misalnya dengan melalui pemikiran-pemikiran filosofis terhadap alam semesta termasuk manusia.
Sikap iman adalah sikap menerima tanpa reserve, tanpa tanya dan tanpa ragu, serta memiliki sikap penyerahan diri dan kerelaan berkorban sebagai konseksuensi dari imannya. Oleh sebab itu sikap iman adalah perlambang dari kebaikan yang sangat tinggi dan pertanda dari keutuhan pribadi manusia.[1]

Perhatikan betapa kontradiktifnya pernyataan-pernyataan di atas! Dikatakan bahwa iman tidak dapat dijangkau dengan akal dan pengalaman empiris, tapi dikatakan pula bahwa rasio atau akal dapat dijadikan sarana untuk mencapai dan memperteguh iman. Bukankah penggunaan rasio atau akal sebagai sarana itu berarti melibatkan rasio dan akal dalam suatu peristiwa empiris?
Selain itu benarkah sikap iman adalah perlambang dari kebaikan yang sangat tinggi dan pertanda dari keutuhan pribadi manusia? Lalu bagaimana dengan orang-orang yang disebut di dalam Al-Qurãn “beriman dengan yang bãthil?” Apakah mereka juga mela-kukan kebaikan yang sangat tinggi dan mempunyai kepribadian yang utuh? Kita tidak berani mengatakan bahwa para pakar terse-but tak pernah membaca Al-Qurãn, tetapi rupanya mereka lupa atau entah mengapa.
DR. Quraish Shihab, ahli ilmu-ilmu Al-Qurãn   lulusan Univer-sitas al-Azhar, Mesir (1982) menulis dalam harian Pelita tanggal 29 Januari 1992:

… akal seringkali memunculkan aneka pertanyaan yang dapat menghadang kemantapan iman. Tentu ada yang puas dengan satu jawaban, tetapi bagaimana yang tidak puas? Apakah iman harus terus dipertahankan? Dengan kata lain, apakah yang diimani harus dipahami?

Kemudian ia mengutip dalil Soren Aabye Kierkegaard filsuf Denmark yang mengatakan: Anda harus percaya bukan karena tahu, tapi karena tidak tahu.
Kalau begitu, kita ajukan pertanyaan  sebagai berikut:

1.    Bila yang kita imani tidak perlu dipahami, beranikah kita mengatakan bahwa Al-Qurãn  itu tidak perlu dipahami tapi cukup dipercaya saja?
2.    Dalam kehidupan sehari-hari, bisakah kita mempraktikkan prinsip bahwa “kita percaya bukan karena tahu tapi karena tidak tahu?” Bisakah – misalnya –  kita mempercayai orang yang baru kita temui di jalan, lalu menyuruhnya mengan-tarkan uang ke bank?

Bila pertanyaan pertama dijawab dengan “ya”, maka Al-Qurãn  itu bukan petunjuk, bukan pedoman hidup, tapi cuma semacam jimat. Bila kenyataannya demikian, maka pantaslah orang-orang yang mengaku Mu’min/Muslim itu kebanyakan tidak mengenal ajaran agama mereka. Pantaslah bila pengakuan mereka tidak sama dengan kelakuan dan perlakuan mereka. Lalu apakah yang bisa diharapkan dari mereka? Akibat yang akan timbul adalah seperti yang dikatakan oleh nabi Muhammad: Islam hanya tinggal nama, Al-Qurãn hanya tinggal tulisannya, masjid-masjid ramai tapi sepi dari petunjuk.”
     Bagaimana pula bila pertanyaan kedua dijawab dengan “ya”? memang bisa saja kita mempercayai sesuatu yang tidak kita ketahui. Misalnya, kita percaya bahwa bumi ini bulat dan berputar mengelilingi matahari. Tapi kepercayaan ini tidak timbul secara mendadak. Kita percaya karena pernah sekolah, mendengar keterangan darai guru, membaca buku-buku, melihat gambar-gambar, dan banyak lagi masukan yang akhirnya membentuk kepercayaan, membentuk opini. Alhasil, kepercayaan kita tentang bumi itu bisa dikatakan karena tahu juga, meskipun tidak tahu secara langsung.
     Kita tidak bisa percaya tanpa syarat. Tidak bisa percaya tanpa minta pembuktian, baik pembuktian langsung atau melalui perantara. Misalnya, kita percasya tentang adanya Allah, karena melihat bukti-bukti berupa segala hasil ciptaan-Nya.
     Quraish Shihab juga mengutip gambaran hakikat iman dari seorang pakar bernama Al-Aqqad, yang mengatakan: “Hakikat iman berbeda dengan hakikat pengetahuan. Iman mempunyai kesamaan dengan rasa kagum … keduanya bersumber dari hati manusia. Dua orang yang setingkat pengetahuannya dapat berbeda tingkat kekagumannya terhadap satu obyek yang sama mereka ketahui, yang pertama mungkin mengaguminya dan yang lain menilainya bioasa-biasa saja. Seorang awam boleh jadi tingkat keimanannya melebihi tingkat keimanan seorang filsuf walaupun ia lebih dalam pengetahuannya.”
     Bila demikian, mengapa iman tidak disamakan pula dengan kekafiran, yang juga bersumber dari hati manusia? (Perhatikan Surat al-Baqarah ayat 6-10). Dua orang yang berpengetahuan setingkat dapat berbeda tingkat kekagumannya pada suatu obyek yang mereka ketahui, karena kagum adalah soal selera. Dua orang yang berpengetahuan sama belum tentu mempunyai pengetahuan yang sama tentang obyek tyersebut. Yang satu mungkin mem-punyai pengetahuan yang luas dan mendalam, yang lain mungkin hanya tahu sedikit saja. Malah bisa kita katakan bahwa rasa kagum, juga “rasa-rasa” yang lain, seringkali tidak mempunyai landasan pengetahuan obyektif.
     Kenyataannya memang demikianlah keadaan iman manusia pada umumnya: tanpa landasan pengetahuan obyektif! Padahal Rasulullah menegaskan bahwa orang yang lebih berpengetahuan justru lebih potensial untuk memiliki iman yang mantap. Dalam suatu Hadits, misalnya, dikatakan bahwa ada enam golongan manusia masuk neraka karena enam sebab; di antaranya adalah orang-orang dusun, yang masuk neraka karena kebodohan mereka. Mereka menjadi (tetap) bodoh tentu karena malas menuntut ilmu (Periksa Surat az-Zumar ayat 9)
Bahkan (dalam Surat Ali Imran ayat 7) Allah menegaskan bahwa pernyataan “Kami beriman (terhadap Al-Qurãn)” hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berilmu tinggi. Surat al-Isrã’ ayat 36, juga menegaskan bahwa ilmu harus didahulukan dari sikap ikut-ikutan (percaya sebelum tahu). Ayat ini bahkan bertentangan dengan pernyataan Quraish Shihab dalam tulisannya tersebut bahwa “akal dapat mengetahui fenomena, dapat pula menciptakan pengetahuan, tetapi tidak mampu menciptakan iman.” Bila per-nyataan Quraish Shihab ini benar, tentu kita tidak perlu memiliki akal untuk beriman. Tapi itu mustahil sekali. Karena, bukankah bila tanpa akal manusia sama dengan hewan?
Memang aneh, mengapa begitu banyak orang yang mengesam-pingkan peran akal ketika berbicara tentang iman? Padahal Al-Qurãn sendiri menyebutkan akal dengan berbagai bentuk mor-fologinya paling sedikit dalam 23 Surat. Mengapa kita seperti ingin menceraikan akal dengan iman, sedangkan sang Pencipta sendiri menjadikan keduanya berpasangan?
     Anda khawatir kebebasan akal akan merusak iman, dan meng-ancam keberadaan agama? Kekhawatiran itu hanya boleh ditujukan kepada agama tidak yang sesuai dengan fitrah manusia. Akal yang bebas, bila yang dicarinya memang kebenaran, pasti dapat mene-rima kebenaran agama yang benar. Akal yang bebas tidak bisa ikut-ikutan untuk percaya asal percaya. Sebab kata Ibrahim al-Laqani dalam Nazham Jauharah at-Tauhid, “Orang yang bertauhid hanya ikut-ikutan, imannya tidak akan bebas dari keguncangan.” (Idz kullu man qallada fï tawhidi imãnuhu lam yakhlu min tardïd).[2]
     Al-Qurãn, sumber iman yang hakiki, adalah sebuah kitab yang berasal dari Pencipta manusia, yang paling tahu kemampuan akal manusia, sehingga ia adalah Kitab yang dapat dipahami oleh akal manusia. Karena Allah tidak membebani manusia dengan beban yang tidak bisa dipikulnya (al-Baqarah ayat 286). Karena Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia (Ar-Rum ayat 30). Tidak ada yang tidak masuk akal atau tidak bisa dipahami akal dalam agama ini, dalam kitab sucinya (an-Nisa’ ayat 82). Kalau selama ini kita berpandangan sebaliknya, mungkin karena kita tidak mengkajinya sesuai petunjuk-Nya, tapi mengikuti selera masing-masing (Al-Jatsiyah ayat 23).
     Dengan doktrin yang mengatakan bahwa agama adalah urusan hati, dan bukan urusan akal, kita dipaksa untuk percaya saja pada pernyataan yang paling ganjil pun. Kita diharuskan membiarkan akal meronta seperti cacing kepanasan sampai ia mati. Padahal konon agama diturunkan untuk petunjuk, bukan untuk jadi teka-teki yang cuma bisa  dijawab oleh Allah sendiri.
     Karena akalnya tidak mendapat jawaban dari agama, ada sebagian orang menuduh agama sebagai candu atau penjara bagi akal manusia. Salahkah mereka? Barangkali di antara mereka ada beberapa gelintir orang yang jujur, ingin mendapatkan kebenaran, tapi para ahli agama menutupi kebenaran itu dengan mengatakan bahwa agama bukan urusan akal, bahwa kita harus percaya saja tanpa harus memahami. Al-Islam mahjubun bil muslimin, kata Muhammad Abduh.
Kebenaran Islam digelapkan oleh orang Islam sendiri.





[1] Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat/Buku Daras Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, hal. 195, Tim Penulis : Prof. DR. HM. Rasyidi, Drs. H. Harifuddin Cawidu, Prof. DR. Zakiah Daradjat, Prof. Drs. H.A. Sadali, Teribitan Proyek Pembinaan Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum, Jakarta, 1984.         
[2] Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, KH. Saifuddin Zuhri, PT. Al-Ma’arif, 1979. 

Minggu, 11 September 2016

Wuqûf Di Arafah, Untuk Apa?


Wuqûf(un), harfiah menurut kamus, berarti (keadaan) berdiri ; (berdiam dengan) tenang; tenteram; memperlihatkan; mengenal, dst.
Sedangkan arafah berarti pengetahuan; pengenalan.
Lalu, wuqûf di Arafah itu apa artinya?
Dalam rangkaian manasik (upacara khas) haji, wuqûf di Arafah sering dikatakan sebagai puncak ibadah haji. Dengan kata lain, wuqûf di Arafah adalah pamungkas dari rangkaian manasik haji, dengan cara berkerumun di tempat (bukit; padang; tanah lapang) bernama Arafah.
Begitulah memang tinjauan secara ritualnya.
Dan sering saya katakan bahwa ritus (kata sifatnya ritual) adalah semacam bahasa isyarat atau lembang, yang tentu di  dalamnya ada sesuatu (makna) yang sengaja disimpan. Nah, sesuatu yang disimpan ini tentu harus dikeluarkan sesuai waktu dan tempatnya.
Kapan dan di mana?
Bahasa yang berupa lambang (seperti huruf-huruf singkatan yang ditulis indah, gambar, pakaian seragam, gerakan-gerakan tari, gerakan-gerakan dalam ritus), hanya diperlihatkan sebagai ‘pameran’ dan/atau ‘tontonan’, yang berguna, antara lain, untuk memperlihatkan identitas, ciri khas, dan sebagainya, dari satu golongan, kelompok, korp, dan sebagainya di waktu dan tempat tertentu. Dalam hal ini, ritual-ritual dalam Islam, seperti shalat dan haji, jelas merupakan ciri khas dan identitas Islam. Tapi, di balik itu, apa yang tersimpan (terkemas)? Inilah yang tidak diketahui oleh orang awam, dan hanya diketahui sedikit pakar.
Haji adalah ibadah ritual yang melambangkan kesatuan dan persatuan umat Islam sedunia. Di dalam kesatuan tentu berpadu keaneka-ragaman. Di dalam persatuan pasti terjadi ‘kemanuggalan’ dari yang beraneka itu.
Bila dalam ritual haji itu yang terjadi hanya simulasi, yang kemudian membentuk lambang, dalam kehidupan nyata, simulasi itu harus menjadi kenyataan yang sebenarnya. Bukan hanya simulasi (permainan sandiwara) lagi. ...
Kembali ke soal wuqûf di Arafah.
Dalam ritual haji (yang merupakan lambang atau simulasi), wuqûf di Arafah dilakukan sejak terbit sampai tenggelam matahari. Di sana jutaan orang berkumpul berdoa, berdzikir, dan seterusnya, yang semua merupakan ‘amalan-amalan’ yang boleh dikatakan individual.
Rasanya agak lucu ya? Semua berkumpul di tempat yang sama, tapi kok yang dilakukan adalah tindakan yang bersifat perorangan? Memang ada juga sich yang namanya khutbah di sana. Tapi itu pun dilakukan oleh kelompok-kelompok demi kepentingan kelompok.
Bukankah seharusnya khutbah di arafah dilakukan oleh seorang khatib demi kepentingan semua? Misalnya seperti yang dilakukan Rasululah dalam Khutbah Wadâ’  yang terkenal itu?
Isi khutbah Wada
Tanggal 8 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriyah, Nabi Muhammad berangkat dari Makkah menuju Arafah, mengendarai untanya yang bernama Al-Qashwâ, diiringi umatnya yang berjumlah sekitar 140.000 orang. Sampai di Mina, semua mampir dan mendirikan kemah, lalu bermalam di situ. Esoknya, setelah subuh, perjalanan ke Arafah dilanjutkan. Di kawasan bukit Arafah, mereka berkemah pula di desa Namirah, di sebelah timur bukit Arafah. Setelah matahari tergelincir, mereka berangkat ke lembah Bathnul Wâdy, yang terletak di lapangan Urnah. Setelah berwukuf dan memperlihatkan cara-cara ritual haji, Nabi naik ke punggung untanya, dan kemudian berteriak sekeras-kerasnya, memanggil berkumpul umatnya. Panggilan Nabi disambung oleh Rabi’ah bin Umayyah bin Ghalaf dengan sekeras-kerasnya pula (waktu itu belum ada pengeras suara). Di situlah Nabi berkhutbah, menyampaikan serangkaian amanat yang kemudian dikenal sebagai Khutbah Wadâ’ (خطبة الوداع).
Ringkasan isinya dapat diuraikan ke dalam butir-butir (hukum) sebagai berikut:
1.       Darah (jiwa) kalian itu mulia. Demikian juga harta-benda dan harga diri.
2.       Kalian semua akan bertemu dengan Tuhan kalian, dan Dia akan bertanya tentang amal-amal kalian.
3.       Bila kalian berbuat jahat, kalian harus mempertanggung-jawabkannya sendiri.
4.       Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.
5.       Harta seorang muslim haram bagi saudaranya, kecuali bila mendapat ijin darinya.
6.       Seluruh ajaran Jahiliyah telah hancur di bawah kakiku.
7.       Riba pada zaman jahiliyah telah dihapuskan.
8.       Takutlah pada Allah dalam urusan wanita. Mereka adalah amanat Allah atas kalian. Kalian mempunyai hak atas istri kalian, dan istri kalian juga mempunyai hak atas kalian.
9.       Patuhilah pemimpin yang menegakkan kitabullah, walaupun ia (mantan) budak hitam asal Habsyi (Abesinia).
10.   Ahli waris tidak berhak atas wasiat, dan wasiat (bagi bukan ahli waris) tidak boleh lebih dari sepertiga kekayaan.
11.   Anak adalah milik suami yang sah, bukan hak bagi pezina.
12.   Setan gagal untuk dipatuhi di negeri ini, tapi mereka cukup puas bila kalian melakukan hal-hal yang menurut perkiraan kalian penting.
13.   Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam dari tanah. Orang yang termulia adalah yang takwa. Tak ada kelebihan Arab atas non-Arab, selain karena takwa.
Setiap menyelesaikan butir-butir pernyataannya, Nabi menyelingi dengan pertanyaan, “Sudahkah ini kusampaikan?”, yang dijawab oleh umat dengan teriakan bahwa Nabi memang telah menyampaikan. Kemudian Nabi menengadah ke langit sambil berkata, “Ya Allah, saksikanlah ini!”
Melalui khutbah ini, kita mendapat kesimpulan tentang inti ajaran yang disampaikan Rasulullah, yakni inti ajaran Dinul Islam dalam bidang pergaulan kemasyarakatan (social aspects), khususnya antar sesama muslim.

Sekarang Khutbah Wadâ’  seperti tinggal kenangan, bagi yang mengetahuinya. Bagi awam, Khutbah Wadâ’  tak ada dalam ingatan mereka.
Padahal, selayaknya Khutbah Wadâ’ itu diulang, tentu boleh dengan tambahan berbagai variasi sesuai keadaan zaman. Harapannya, semoga isi khutbah ini diresapkan dan dilaksanakan umat Islam seluruh penjuru bumi; sehingga kemungkinan-kemungkinan untuk saling berselisih dapat dihapuskan, dan perasaan sebagai satu umat yang kompak dapat ditumbuhkan.
Hal terpenting yang layak dilakukan di Arafah adalah sebagai berikut:
1.       Terjadinya perkenalan resmi (formal) antarbangsa (yang kini dihambat oleh masalah bahasa).
2.       Terjadinya perkenalan yang mendalam, bukan formalisas, dalam susana yang tenang dan leluasa (yang kini terhambat oleh terlalu membludaknya manusia yang ingin jadi haji).
Masalah pertama tentu bisa diatasi dengan dijadikannya bahasa Al-Qurãn sebagai lingua franca (bahasa pergaulan) umat Islam sedunia. Dengan sendirinya, para guru agama harus sibuk mengajarkan bahasa Al-Qurãn, bukan hanya mengajarkan tajwid seperti sekarang.
Masalah kedua, jamaah haji harus dibatasi, hanya terdiri dari orang-orang yang terpilih sebagai duta-duta wilayah. Dengan demikian jamaah haji hanya terdiri dari orang-orang berkualitas, yang menguasai permasalahan wilayah masing-masing, yang bisa disampaikan ke ‘forum’, untuk diusahakan penyelesaiannya bersama. Dengan demikian, terwujudlah seperti yang dikonsepkan bahwa al-hajju mu’tamar(un). Haji adalah muktamar. Haji adalah semacam konferensi umat Islam sedunia.
Ahmad Haes, Bekasi, 11 September 2016.