Sabtu, 22 November 2014

Catatan Ringkas Surat Al-Fātihah


Masa pewahyuan
Surat ini merupakan salah satu surat yang turun pada giliran paling awal dalam proses penurunan wahyu kepada Nabi Muhammad. Kita mendapat informasi dari hadis shahih bahwa Al-Fātihah adalah surat pertama yang diturunkan secara utuh sekaligus. Sebelumnya, yang diturunkan hanyalah sebagian dari surat Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzzammil, dan Al-Muddatstsir.

Pokok bahasan
Surat ini kenyataannya adalah doa yang diajarkan Allah kepada semua orang yang ingin mengkaji KitabNya. Surat ini diletakkan pada bagian permulaan Kitabullah untuk mengajarkan bahwa: jika anda dengan tulus ingin mengambil manfaat dari Al-Qurãn, maka anda harus mempersembahkan doa ini (Al-Fātihah) kepada Tuhan Semesta Alam.
Tindakan pendahuluan tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan keinginan yang kuat dalam hati pembaca untuk mencari bimbingan dari Tuhan Semesta Alam, yang merupakan satu-satunya dzãt yang mampu memberikan bimbingan yang dibutuhkan. Dengan demikian, Al-Fātihah secara tidak langsung mengajar bahwa hal terbaik bagi seorang manusia untuk meminta bimbingan ke jalan yang lurus, adalah mengkaji Al-Qurãn dengan sikap mental pencari kebenaran, dan dengan menyadari kenyataan bahwa Tuhan Semesta Alam adalah sumber segala pengetahuan.
Dari pokok bahasan demikian itu, jelaslah bahwa hubungan antara Al-Fātihah dengan Al-Qurãn bukanlah seperti hubungan antara pendahuluan sebuah buku dengan bukunya secara keseluruhan, tapi hubungan antara sebuah doa dengan jawabannya. Al-Fātihah adalah doa hamba, dan Al-Qurãn secara keseluruhan (surat-surat setelah Al-Fãtihah) adalah jawaban dari Tuhannya. Sang hamba berdoa meminta bimbingan, dan Tuhan menghidangkan Al-Qurãn secara keseluruhan di hadapannya sebagai jawaban, seolah-olah Ia berkata, “Inilah bimgingan yang kamu minta kepadaKu.”***



Terjemahan dari tulisan dalam Saheeh International Translation, www.quranproject.org

Kamis, 10 April 2014

Kamus Kata-kata Khusus Al-Qurãn (1) (Al-Fatihah)




1.      Kata ar-rahmãn maupun ar-rahîm keduanya merupakan kata sifat yang sama-sama diambil dari rahmatun (rahmah), yang berarti kasih-sayang. Keduanya juga dibentuk dari pola-pola (wazn) yang mengandung arti “sangat” atau “maha”. Banyak penafsir berpendapat bahwa yang pertama mengandung pengertian umum (ditujukan kepada semua orang, bahkan makhluk), sedangkan yang kedua bermakna khusus (hanya ditujukan kepada para mu’min). Pendapat tersebut bisa dibenarkan bila kata ar-rahmãn dihubungkan dengan ar-rahmãnu ‘alal-arsyistawa... dan ar-rahîm dihubungkan dengan wa kana bil-mu’ninina rahiman...
2.      Kata hamdun adalah pujian yang berkaitan dengan kakaguman dan cinta. Bentuk definitifnya, al-hamdu adalah ungkapan tunggal bermakna jamak; yaitu mencakup berbagai bentuk pujian, kekaguman, dan cinta yang secara keseluruhan hanya layak ditujukan kepada Allah. Ada pendapat yang mengatakan bahwa hamdun lebih luas dari syukrun yang hanya merupakan ungkapan terimakasih untuk konteks pemberian tertentu yang baru diterima.
3.      Rabb(un) adalah istilah yang mencakup pengetian pencipta, penyelenggara, pemelihara, pelindung, pengendali, pembimbing, pendidik, dlsb.  Tak ada satu pun kata dalam bahasa Indoneia yang setara dengan istilah rabb.
4.      Ãlamîna adalah jamak dari ‘ãlam(un) dalam bentuk majrũr(un). Bentuk marfû’(un)-nya adalah ãlamũna. Makna istilah ini mengacu kepada semua makhluk Allah, baik malaikat, jin, manusia maupun segala makhlum yang terdapat di dalam semesta alam.
5.      Sungguh menarik bahwa matan (teks) Al-Qurãn dimulai dengan penyebutan sifat-sifat utama Allah. Ini sepantasnya mengingatkan kita bahwa tiada sesuatu pun di dalam semesta alam ini yang luput dari penyelenggaraan, kendali, pemeliharaan, dan kasih-sayang Allah.
6.      Mãlik(un) selain berarti pemilik juga berarti penguasa, pemegang, pengendali, dan sebagainya.
7.       Yaum(un) adalah kata benda yang berarti waktu dalam arti bilangan waktu mulai dari detik dan seterusnya. Bisa juga berarti kesatuan (unit) waktu tertentu seperti hari, periode, zaman, kurun, dan sebagainya. Tapi dalam ayat ini yang menjadi penentu maknanya adalah kata mãlik(un) dan ad-dĩn(u).
8.      Dĩn(un) adalah kata benda yang mempunyai banyak arti, sesuai dengan konteksnya. Ia bisa berarti pengadilan, perhitungan, pembalasan, pemberian imbalan, agama, jalan hidup, organisasi, komunitas (jama’ah),  dan lain-lain.

Senin, 17 Maret 2014

Perubahan Pola Pikir

Perubahan bentuk kehidupan manusia bermula dari perubahan sifat (keadaan) jiwaannya. Sifat manusia, apakah baik atau buruk, apakah peramah atau pemarah, bukanlah sesuatu yang terbawa  melalui kelahiran. Dengan kata lain, sifat manusia bukanlah sesuatu yang disebut orang Barat sebagai gifted (pemberian Tuhan) atau bakat.

Lewat sebuah Hadisnya yang terkenal Nabi menegaskan bahwa sifat manusia terbetuk oleh pengaruh lingkungan, khususnya ‘lingkungan pergaulan’ sehari-hari. Dengan demikian, sifat manusia bukanlah sesuatu yang menetap tapi sesuatu yang dapat berubah-ubah. Orang baik bisa menjadi jahat, orang peramah bisa jadi pemarah,dan begitu juga sebaliknya. Sebuah lagu yang populer di tahun enampuluhan, misalnya, menggambarkan demikian:

Wajahmu dulu berseri-seri
Senyummu dulu manis sekali
Pandangan matamu bercahaya
Tetapi kini jauh berbeda
Hilangkan syak wa sangka serta cemburu
Ataupun pikiran yang tiada menentu
Kuingin wajahmu berseri kembali
Kuingin senyummu terlukis kembali

Jadi, ‘masukan’ yang berupa kecurigaan dan cemburu bisa mengubah orang periang menjadi pemurung. Masukan yang lain tentu bisa pula menimbulkan suasana (baru) yang lain pula. Sehubungan dengan inilah kutipan di bawah ini menjadi cukup menarik untuk diperhatikan:

Mengelola sebuah perubahan pada dasarnya adalah megelola sebuah proses psikologi. Mengubah suatu organisasi berarti mengubah perilaku para anggotanya. Karena perilaku dikontrol oleh pikiran, maka satu-satunya cara untuk mengubah perilaku adalah melalui pikiran.
Dan karena yang dapat mengubah pikiran manusia adalah manusia sendiri, maka satu-satunya cara untuk melakukan perubahan adalah dengan mengajak orang mengubah pikiran mereka sendiri. Tapi bagian terberat dari proses perubahan memang mengubah pola pikir.
Pikiran adalah pusat dari segala kontrol perilaku manusia. Seluruh persepsi dan perilku manusia dipicu dari sini. Pemicu tersebut baru bergerak ketik enerji mendorong sirkuit di dalam otak yang berisi program
bersifat fisikal. Dari sinilah bermula proses berpikir. (James N. Farr dalam Executive Exellence).

Setiap bicara tentang perubahan nasib manusia, para ahli agama umumnya selalu mengutip bagian dari surat Ar-Ra’du ayat 11, dan itu pun tanpa dilihat kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya, yaitu:

… Innallaha la yughayyiru ma_ biqaumin hatta yughayyiru ma bin anfusihim. …
Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. … (Terjemahan Mahmud Yunus).

Pengutipan tersebut ini tidak salah, tapi karena dilepaskan dari konteksnya, maka temanya menjadi tidak menentu. Padahal melalui surat ini, antara lain, Allah menegaskan tentang kecanggihan wahyunya, dan ia mengungkap hal itu dengan bahasa yang sangat menyentuh perasaan, dan pasti menimbulkan rasa malu, bagi orang yang berpikir, untuk bersikap kafir.

Tegasnya, perubahan sikap masyarakat tidak bisa ditentukan oleh oleh undang-undang tertulis, meskipun undang-undang itu berasal dari Tuhan!Sikap manusia hanya bisa berubah setelah pola pikirnya berubah. Dan perubahan pola pikir harus dilakukan melalui proses pendidikan atau da’wah yang benar. Inilah yang dilakukan Nabi Muhammad pada periode pertama masa kerasulannya di Makkah, sehingga periode ini selanjutnya dikenal sebagai Periode Makkiah.

Penyebutan da’wah Rasululah pada Periode Makkiah bukanlah tanpa maksud. Bila kita ingin agar usaha-usaha untuk mengembalikan fungsi Quran itu berhasil, maka mau tak mau kita harus menjadikan Sunnah Rasul sebagai pola dalam strategi dan taktik da’wah (pendidikan). Bila diakui secara jujur, da’wah Islam sejak berakhirnya masa Rasulullah dan para sahabat telah menyimpang dari pola Rasulullah, sehingga hasilnya adalah seperti yang nampak  dan terasa sekarang. Yaitu seperti kata Rasulullah, “Islam hanya tinggal nama, Quran hanya tinggal tulisannya; masjid-masjid ramai tapi kosong dari petunjuk.”

Da’wah yang dilakukan umat Islam sekarang sangat berbeda dengan da’wah Nabi. Para da’i sekarang cuma punya satu kecenderungan: mendorong masyarakat melakukan tindakan-tindakan praktis berdasar undang-undang tertulis (Quran-Hadis) hasil penafsiran mereka sendiri, yang malangnya tidak dikenal masyarakat secara akrab. Dengan sendirinya da’wah demikian menjadi lebih bersifat intimidasi daripada menerangi atau membimbing. Ini sangat mengerikan. Sangat berbahaya; karena bisa menyebabkan banyak orang melakukan sesuatu yang tidak mereka pahami secara mendalam. Da’wah model sekarang cuma membuktikan tuduhan Komunis bahwa agama adalah candu bagi masyarakat, atau semacam obat perangsang (dopping) yang memberikan kegairahan sesaat tapi mengakibatkan kerusakan permanen. Misalnya – mudah-mudahan saya salah! – kegiatan-kegiatan da’wah yang berbau hura-hura dan musiman, yang bisa menimbulkan anggapan bahwa itulah da’wah yang sebenarnya, dan anggapan itu – otomatis – membuat kita lupa pada cara (sunnah) da’wah hakiki yang dilakukan Rasulullah. Bila hal itu terus berlangsung, berkesinambungan, maka terjadilah kerusakan permanen pada Sunnah Rasul. *

Minggu, 16 Maret 2014

Siapakah ‘Lawan Bicara’ Al-Qurãn?

Lawan bicara (mad’u; audience) Al-Qurãn (pada dasarnya) adalah semua orang di seluruh dunia (universal), tanpa batasan jenis kelamin, kebudayaan, atau kepercayaan keagamaan. Namun, secara khusus, ayat-ayat Al-Qurãn, dengan berbagai bentuk kalimat yang panjang maupun pendek, mengarahkan panggilannya kepada enam kelompok manusia seperti di bawah ini.
  1. Umat manusia: Ayat-ayat yang menempatkan manusia secara umum sebagai lawan bicara biasanya berisi ajaran universal, peringatan-peringatan, dan kabar gembira. Kalimat-kalimatnya biasanya dimulai dengan seruan “Hai manusia” (yaa ayyuhan-nasu) atau “Hai Anak Adam”. Seruan-seruan ini bisa ditemukan dalam surat-surat yang turun pada awal pewahyuan, yang dikenal sebagai Ayat-ayat Makkiyah.
  2. Para mu’min: Ayat-ayatnya berisi pesan tentang perilaku dan etiket (akhlãq) Muslim dan sering kali merupakan perkenalan sebuah hukum. Selain itu juga bisa ditemukan peringatan tentang bahaya dari jalan hidup yang salah, dan kabar gembira bagi mereka yang istiqamah serta teguh bertahan dalam iman. Ayat-ayatnya biasanya dimulai dengan seruan “Hai orang-orang beriman” (yaa ayyuhal-ladzīna ãmanû), atau diakhiri dengan kesimpulan “ini berlaku/ditujukan kepada orang-orang beriman.”
  3. Ahli Kitab: Al-Qurãn banyak memperhatikan Yahudi dan Nasrani sebagai para penerima wahyu terdahulu. Mereka disapa dengan panggilan “Ahlul-Kitãb.” Al-Qurãn menggunakan kisah-kisah para rasul dari ketiga umat untuk mengingatkan mereka atas pesan universal berupa kapasrahan terhadap Allah. Kadang kala Al-Qurãn menyerukan pesan bagi ketiganya secara terpisah. Misalnya, setelah para Muslim awal hijrah dari Makkah ke Madinah, Nabi Muhammad berinteraksi dengan suku-suku Yahudi dalam diskusi-diskusi dan debat tentang wahyu Al-Qurãn. Al-Qurãn memuat sejumlah ayat yang merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Yahudi, dan juga menandai beberapa ketegangan yang terjadi di antara dua umat.
  4. Orang-munafik: Al-Qurãn memandang kemunafikan sebagai hal yang layak dibenci dan menggunakan kalimat-kalimat keras untuk mengutuknya. Ayat-ayat tentang orang-orang munafik biasanya berisi peringatan tentang sesuatu (azab) yang menunggu mereka di Akhirat, dan mengajak mereka untuk bertaubat (kembali) kepada iman yang benar.
  5. Penentang iman: Al-Qurãn banyak menyinggung mereka yang menolak da’wahnya dengan dalil-dalil (argumen) filosofis dan peringatan-peringatan. Mereka disebut sebagai orang kãfir. Istilah ini, oleh orang Arab, biasa digunakan untuk menyebut “orang yang tidak berterimakasih” (yaitu orang yang meningkari anugerah). Dalam sudut pandang Al-Qurãn, kekafiran (pengingkaran) terbesar adalah sikap ‘menutup telinga’ terhadap da’wah Al-Qurãn.[1]
  6. Para pembaca: Siapa pun anda, ketika membaca Al-Qurãn, akan merasakan bahwa anda sedang bercakap-cakap dengannya, yang di dalamnya kadang kala anda disuguhi pertanyaan-pertanyaan. Bahkan dalam satu surat saja (yaitu surat ke-55, Ar-Rahmãn), ada satu pertanyaan yang diulang sampai 31 kali. (Fa-bi-ayyi alã’i rabbikumã tukaddzibãn).
Al-Qurãn juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan penarik perhatian dengan cara yang akrab seperti, “Bukankah Dia mendapati kamu dalam keadaan yatim dan kemudian memberimu perlindungan? Dan dia mendapati dirimu dalam kesesatan, lalu memberimu pedoman? Dan dia mendapatimu dalam kemelaratan, lalu memberimu kecukupan? (93: 6-8).
——————
*** Tulisan ini diambil dan diterjemahkan dari “Islam for Dummies” (Amerika), yang mungkin dibuat oleh tim yg netral. Mungkin karena itu pada daftar di atas tidak ditegaskan bahwa Al-Quran juga menyebutkan Bani Isra’il sebagai lawan bicara. Selain itu, Nabi Muhammad sebagai lawan bicara langsung dengan peran-peran khususnya, misalnya dalam surat Al-Ahzab (ya ayyuhan-nabiyyu inna arasalnaka syahidan, wa mubasyiran, wa nadziran, wa da’iyan ilallahi, wa sirajan muniran) juga tidak disebut.
***Lebih lanjut silakan baca: http://www.dummies.com/how-to/content/identifying-the-audience-for-the-koran.html#ixzz0ms0KhMLi

[1] Istilah kãfir secara bahasa (ilmu sharf) berasal dari kata kerja kafara, yang berarti menutup. (AH)

Selasa, 11 Maret 2014

Masalah Apakah Yang Dibahas Dalam Al-Qurãn?

Topik-topik apa sajakah yang dibahas dalam Al-Qurãn?
Al-Qurãn membahas berbagai masalah. Hal terpenting yang dibahas di dalamnya adalah tentang keesaan Tuhan (God) dan bagaimana agar manusia menjalani hidup  sesuai kehendakNya. Topik-topik lainnya mencakup soal ajaran agama, penciptaan, hukum kriminal, agama Yahudi (Judaism), Kristenisme,  politeisme, nilai-nilai social, moralitas, sejarah, kisah-kisah para rasul sebelum Muhammad, dan ilmu pengetahuan (science).
Al-Qurãn mengajukan keteladanan agung para rasul terdahulu dan menyebutkan pengorbanan-pengorbanan besar mereka demi menyebarkan amanat Allah. Di antara mereka yang paling menonjol adalah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa. Al-Qurãn memaparkan bagaimana umat mereka, khususnya Yahudi dan Kristen, mematuhi dan menentang ajaran para rasul. Al-Qurãn juga membahas nasib bangsa-bangsa masa lalu yang menolak da’wah para rasul seperti Nabi Nuh dan Lut.
Di dalam Al-Qurãn terdapat perintah-perintah untuk menjalani kehidupan yang diridhai Allah. Ada perintah untuk melakukan shalat,  puasa, dan peduli terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Al-Qurãn membahas hubungan antarmanusia, kadang secara sangat rinci – misalnya hukum waris dan perkawinan – yang mengingatkan pada Bibel berbahasa Ibrani (Perjanjian Lama) namun tidak terdapat dalam kitab Perjanjian Baru. Al-Qurãn menegaskan agar manusia menjalankan perintah-perintah Allah karena Allah (lillahi ta’ala) semata, bukan karena alas an-alasan duniawi. Al-Qurãn mengancam mereka yang menolak ajaran Allah dengan api neraka, seraya menjanjikan manusia yang patuh dengan imbalan sorga.
Al-Qurãn menuturkan kembali banyak kisah yang terdapat dalam Bibel, terutama tentang Nabi Musa (yang lebih banyak dari yang lain), disertai dengan penyebutan Fir’aun, musuh besarnya, yang dalam Al-Qurãn dimunculkan sebagai contoh iblis berbentuk manusia. Namun, (uraian Al-Qurãn) tidak sama seperti uraian dalam Book of Exodus (kitab yang mengisahkan pengusiran atau pelarian Yahudi yang dipimpin Musa dari Mesir, pen.). Al-Qurãn banyak mengajakan moral dan kewajiban-kewajiban hokum bagi kaum beriman, tapi tidak memuat hukum seperti yang terdapat dalam Book of Deuteronomy (Bibel kelima, yang berisi sepuluh perjanjian dan banyak ‘hukum Musa, pen.). Banyak ayat-ayat Al-Qurãn yang cocok disebut sebagai khutbah, tapi bukan khutbah seperti yang terdapat dalam kitab-kitab Gospel (riwayat dan ajaran Kristus sebagaimana tertulis di dalam Kitab Perjanjian Baru, kamus Peter Salim), yang mengisahkan masa kependetaan Yesus di dunia. Dalam Al-Qurãn, khutbah itu berasal dari Allah.
Pengulangan ayat
Al-Qurãn juga mengulang, berkali-kali, ayat-ayat dan tema-tema tertentu, melompat dari satu topik ke topik lain, dan seringkali mengajukan kisah-kisah secara singkat. Untuk hal itu, kita bisa melihat dua alasan. Pertama, demi alasan kebahasaan dan menandai keunggulan teknik retorika Bahasa Arab klasik.[1] Kedua, semua tema dalam Al-Qurãn, tak peduli bagaimana pun variasinya, semua diikat dalam satu jalinan (‘benang merah’) yang mengikat isi kitab secara keseluruhan. Intinya adalah pesan bahwa segala bentuk pengabdian terhadap selain Allah adalah keliru, dan bahwa kepatuhan kepadaNya, dan rasul-rasulNya (sebagai teladan kepatuhan, pen.), dengan Muhammad sebagai salah satu di antara meeka, adalah suatu keharusan.
Al-Qurãn, tidak seperti Bibel, tidak menghidangkan genealogi (silsilah keturunan), kronologi (urutan kejadian), atau rincian sejarah menit demi menit. Al-Qurãn hanya menggunakan kejadian-kejadian masa lalu maupun masa sekarang sebagai ilustrasi (gambaran untuk membantu pemahaman) pesan intinya. Maka, ketika Al-Qurãn membahas manfaat kesehatan madu atau kisah kehidupan Isa, keduanya tidak diurai secara tuntas, tapi masing-masing dihubungkan dengan cara tertentu kepada pesan inti, yaitu keesaan Allah dan kesamaan ajaran yang dibawa para rasul (bahwa semua berasal dari Allah). Tak peduli topik apa pun yang muncul, pasti akan ditemukan kaitannya dengan tema inti tersebut.
Hal penting lain yang harus diingat adalah bahwa Al-Qurãn tidak diturunkan (diajarkan) sekaligus, tapi diwahyukan (didiktekan) sedikit demi sedikit dalam waktu sekitar 23 tahun. Seperti kitab-kitab terdahulu, banyak ayat diwahyukan sebagai jawaban langsung atas kejadian-kejadian tertentu. Sering kali wahyu disampaikan dari malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang-orang di sekeliling beliau, baik mereka orang beriman maupun kafir.
Al-Qurãn mengingatkan kepada Ahlul-Kitab (istilah untuk menyebut Yahudi dan Nasrani), kepada manusia secara umum, kaum beriman, dan akhirnya kepada Nabi Muhammad sendiri, memerintahkan kepada beliau untuk melakukan tindakan tertentu dalam menghadapi situasi-situasi tertentu, atau memberi semangat kepada beliau, dan menghibur beliau ketika menghadapi ejekan dan penolakan. (Pendeknya) memahami konteks-konteks sejarah dan masyarakat (yang dihadapi Nabi Muhammad) akan menjelaskan pengertian teks (ayat-ayat tertentu dan Al-Qurãn secara keseluruan, pen.).
Ciri khas Al-Qurãn yang lain
Beberapa ciri khas Al-Qurãn lainnya adalah sebagai berikut:
  1. Penggunaan perumpamaan untuk menimbulkan rasa penasaran pembaca dan mengajarkan nilai kebenaran yang tersembunyi (filosofis, pen.).
    1. Lebih dari 200 ayat dimulai dengan kata perintah qul (katakan; bacakan; tegaskan; sampaikan, bantah dsb., pen.).[2] Misalnya: Tegaskan (olehmu, Muhammad, para mu’min): “Hai Ahli Kitab! Adakah alasan kalian membenci kami, selain karena kami beriman dengan ajaran Allah, yang diturunkan kepada kami, (yang senilai dengan) yang diturunkan sebelum ini? Bila demikian, sungguh benarlah bahwa kebanyakan kalian memang fasik (perusak ajaran Allah).[3]
    2. Dalam beberapa ayat Al-Qurãn, Allah bersumpah dengan menyebut maklukNya yang menakjubkan, untuk memperkuat argument (alasan) atau untuk menyingkirkan keraguan dari hati penyimak. Perhatikan, misalnya, surat Asy-Sayamsu. Kadang Allah juga bersumpah dengan menyebut diriNya sendiri, misalnya dalam surat An-Nisa ayat 65.
    3. Terakhir, dalam Al-Qurãn terdapat sesuatu yang (oleh ulama) disebut sebagai huruf-huruf singkatan (huruf-huruf muqatha’ah), yaitu kumpulan huruf-huruf abjad yang pengertiannya tidak ditemukan dalam kamus Bahasa Arab. Hanya Allah tahu pengertiannya.[4] Huruf-huruf itu muncul pada permulaan 29 surat. Dalam pembacaan Al-Qurãn, huruf-huruf itu dibunyikan satu demi satu, misalnya alif-lãm-mîm.
Orang yang tidak akrab dengan Al-Qurãn mungkin akan menemui kesulitan membacanya,  terutama pada taham permulaan. Namun bila mereka memperhatikan hal-hal yang sudah diuraikan di atas, mereka akan terbantu, dan bahkan bila mereka hanya membaca terjemahannya pun, mereka akan menyadari bahwa Al-Qurãn adalah sebuah buku berbobot, yang tiada bandingannya.
(IslamReligion.com)

[1] Secara umum ulama beranggapan bahwa bahasa yang terdapat dalam Al-Qurãn adalah Bahasa Arab klasik atauh Bahasa Arab fushhah. (AH)
[2] Kata ini bisa diterjemahkan secara bervariasi, sesuai dengan konteksnya. (AH)
[3] Tentang pengertian istilah fãsiq periksalah, antara lain, surat Al-Baqarah ayat 26-27.
[4] Demikian kesepakatan ulama. (AH)

Senin, 03 Februari 2014

Buku Perlajaran Bahasa Arab Di Perpustakaan Saya (1)


1. Yang mengalir seperti air
Saya baru bersentuhan dengan buku pelajaran bahasa Arab pada akhir tahun 1985. Waktu itu, di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, saya nimbrung dalam kelompok pengajian yang dipimpin  mendiang Pak Abdullah bin Kambong.
Saya tak tahu kelompok pengajian itu dibentuk sejak kapan. Tahu-tahu, saya sudah harus menghadapi hidangan pelajaran ilmu nahwu dengan mengacu sebuah kitab kecil dan tipis yang dibagikan Pak Abdullah secara gratis. Buku itu berjudul Matnul-Ãjurûmiyyah karya Muhammad bin Dawud As-Shanhãjî.
Belakangan, saya baru tahu bahwa kitab mini tersebut sangat populer di dunia pesantren, dan para santri umumnya menyebut judulnya seenaknya saja. Ada yang menyebutnya Ajurmiyah, Jurumiyah, Jurmiyah, bahkan Ajrumiyah.
Entah karena populernya, kitab tersebut sampai melahirkan dua versi mitos sehubungan dengan pemberian judulnya. Mitos pertama menceritakan bahwa setelah menulis kitab tersebut, Imam Shanhaji (atau Shinhaji) mencelupkannya ke dalam air seraya mengatakan, “Ya Allah! Bila hasil karyaku ini berguna, maka jadikanlah tintanya tidak luntur oleh air!” Dan, konon, tinta yang digunakan Imam Shanhaji itu memang tidak luntur.
Mitos kedua mengisahkan bahwa Sang Imam melemparkan kitabnya itu ke air yang mengalir, sambil berpikir bila kitab itu hanyut, maka berarti kitab itu tak akan bermanfaat. Ternyata, kitab itu tidak hanyut, walau Sang Imam sudah berseru-seru, “Jur miyah, jur miyah!” (Alirkanlah wahai air).
Dengan demikian, menurut mitos-mitos tersebut, maka kitab itu diberi judul Al-Ãjûrumiyyah. Tentu saja tidak nyambung! Soalnya, ãjûrumiyyah bukankah berarti mengalir di air? Atau mengalir seperti air?
Nah, yang terakhir itu, mengalir seperti air, memang menjadi kenyataan. Kitab minimalis Al-Ãjûrumiyyah sampai sekarang terus ‘mengalir’ di tengah kita. Bahkan seperti sumber air yang tak pernah kering, para peminat ilmu nahwu terus menimba ilmu darinya!
***

Buku yang saya dapat dari Pak Abdullah itu benar-benar sangat minimalis. Lebarnya hanya 13,3 cm, panjangnya 20,4 cm, dan tebalnya hanya 2 mm.
Sebenarnya buku ini mencakup dua judul, yaitu Al-Ãjûrumiyyah dan uraiannya, yang ditulis oleh Syarifuddin Yahya Al-‘Imrîthî, dalam bentuk syair, dan diberi judul Nazhmul-Ãjûrumiyyah (Syair Al-Ãjûrumiyyah), dan di sini sering disebut kitab ‘Imrithî saja.
Dari buku setebal 35 halaman, termasuk 2 halaman daftar isi yang diletakkan di belakang (seperti biasa dalam buku-buku lama), naskah Al-Ãjûrumiyyah hanyalah terdiri dari 15 halaman. Tak heran bila naskah ini relatif mudah dihafal.
Isinya adalah dasar-dasar ilmu nahwu, dalam arti pendefinisian istilah-istilah ilmu nahwu secara ringkas dan jitu! Dengan demikian, naskah ini memang layak bertahan sepanjang zaman!
Tepatnya, daftar bahasan naskah ini adalah sebagai berikut:
1.        Definisi kalimat
2.        Kedudukan kata dalam kalimat
3.        Mengenal variasi tanda baca dan fungsinya
4.        Pembagian kata kerja
5.        Kata benda aktif
6.        Kata pelaku (subjek)
7.        Objek yang pelakunya tidak disebut
8.        Subjek dan predikat
9.        Partikel-partikel yang mempengaruhi subjek dan predikat
10.    Kata sifat
11.    Partikel penggandeng

12.    Partikel penegas
13.    Kata benda dalam posisi objek
14.    Objek langsung
15.    Akar kata (mashdar)
16.    Keterangan waktu dan tempat
17.    Keterangan keadaan
18.    Keterangan pengkhususan (spesifikasi)
19.    Partikel pengecualian
20.    Partikel yang berarti “tidak” atau “tidak ada”
21.    Kata seru
22.    Keterangan tentang sebab perbuatan
23.    Keterangan tentang beberapa pelaku yang melakukan hal yang sama
24.    Tentang sebab-sebab kata benda bertanda akhir kasrah

Senin, 06 Januari 2014

Koreksi Yang Harus Dikoreksi (Tanggapan Untuk Zakir Naik)



 Tanggal 29 November 2013, atas permintaan seorang teman Facebook, saya menulis koreksian untuk maklumat DR. Zakir Naik, yang agaknya disebarkan saudara-saudara kita di Malaysia, tampak dari bahasanya yang berbunyi demikian:

Kita tidak seharusnya menulis
“Insya Allah”
karena ini bermaksud menciptakan Allah
(Naudzubillah)
tapi pastikan kita menulis
“In Shaa Allah”
karena ini bermaksud dengan izin Allah

Selebaran ini tak diragukan lagi merupakan terjemahan dari maklumat ZN yang ditulis dalam bahasa Inggris, demikian: 

We should not write it as
“InshaAllah” or “Inshallah”
Because it means “Create
Allah” (Naozobil lah). Wether
Arabic or English.. please sure
You write it properly as
“In shaa Allah” (in 3 separate
words). This means “If Allah
wills). So make sure you
forward this to everyone and
help them correct their
mistake.  JazakAllah Khair.


Tanggapan saya adalah seperti di bawah ini:
Ini contoh aslinya dari surat 37:102: (… إِنْ شَاءَ اللهُ). Perhatikan bahwa ini adalah kalimat syarat (conditional) yang terdiri dari tiga unsur. Yang pertama, in, adalah harfu syarthin (conditional particle), yang berarti: jika, seandainya dsb. Yang kedua, syã’a, adalah kata kerja lampau yang berarti hendak atau menghendaki. Yang ketiga, jelas itu “lafzhul-jalalah” (istilah untuk nama Allah).

Yang sulit di sini adalah penulisan dua kata yang terakhir (شَاءَ اللهُ) ke dalam huruf Latin. Masalahnya, pada kata Allah terdapat hamzah washl, yaitu huruf alif yang lebur ketika terletak di antara dua kata. Karena itu, saya memilih untuk menyambung kedua kata tsb., sehingga menghasilkan tulisan seperti ini:  “in syaAllah”; atau ketiga-tiganya saya sambung: insyaAllah, yang akan dibaca orang Indonesia secara relatif sama dengan tulisan dalam huruf aslinya dan atau ucapan asli dari pembicara aslinya.

Kadang saya juga menulis seperti ini: in syaAllah(u), untuk menegaskan bahwa yg menjadi subjek di situ adalah Allah (ditandai huruf u dalam kurung, sebagai tanda i’rab marfu, yang memastikan Allah sebagai subjek).

Perhatikanlah ini! Bila saya menulis “insyAllah(a)” atau in syaAllah(a), misalnya, maka Allah menjadi objek!

Sedangkan untuk contoh yang diajukan ZN di atas (lihat gambar), tulisan aslinya yang benar, dalam arti akan membuat pembaca awam membaca secara relatif benar, seharusnya: “inyã’ullah(i)”. Dalam ilmu nahwu, ini namanya tarkîb idhãfi (= kata majemuk). Artinya adalah “peciptaan Allah”, dan ini belum tentu menempatkan Allah sebagai objek! Dalam kalimat “ini adalah konsep penciptaan Allah”, misalnya, yang dibicarakan adalah “konsep penciptaan” menurut Allah, bukan penciptaan Allah.

Dalam hal ini, Zakir Naik melakukan kekeliruan secara bahasa (sharaf) ketika ia memberi contoh frasa insyaAllah atau inshallah sebagai berati menciptakan Allah (create Allah), karena bila bermakna demikian, maka jelas bahwa kata insya (اِنْشَاءٌ) bukanlah kata kerja, tapi mashdar, yang jelas masuk ke dalam kelompok kata benda. Dan bila memang yang dimaksud adalah mashdar, maka tulisan aslinya adalah insyã’an (ingat bahwa mashdar adalah isim manshub), dan ketika digabung dengan kata Allah, dalam susunan idhãfah, maka insyã’an ini berubah menjadi insyã’u (tanwinnya hilang karena menjadi mudhaf ilaih); sehingga hasil gabungannya adalah insyã’ullahi, dan arti harfiahnya adalah penciptaan Allah (Allah’s creation) bukan menciptakan (to create) Allah.

Sedangkan contoh yang diberikan ZN di bawahnya (lihat gambar), jelas itu adalah ejaan versi bahasa Inggris. Di sana gabungan huruf s dan h (sh) adalah ‘padanan’ untuk s dan y (sy) dalam ejaan kita (Indonesia).
Perlu diperhatikan pula cara ZN menulis “Naozobil lah” dan “JazakAllah”, yang jelas merupakan kekeliruan. Yang pertama, bila sengaja, kata yang ditulis ZN sebagai Naozobil lah seharusnya (bagi kita) adalah: na’udzu billah. Ini juga frasa yang terdiri dari 3 unsur, yaitu kata kerja (na’udzu), partikel (bi), dan lafzhul-jalalah (Allah). Begitu pula penulisan JazakAllah, yang benar adalah JazãkAllah(u) atau jazaakAllah(u).  Atau bisa juga ditulis Jazãkallah(u) atau jazaakallah(u), tanpa menggunakan huruf besar, mengingat dalam bahasa Arab tidak ada huruf kapital (tidak ada huruf besar/kecil).

ZN juga kurang atau tidak memperhatikan bunyi huruf akhir dari setiap ucapan, yang dalam bahasa Arab justru sangat menentukan makna. Hal ini bisa dimaklumi bila orientasinya adalah “pengucapan”, dan bukan “penulisan”. Tapi jelas, melalui maklumatnya itu, dia justru mengorekasi cara penulisan (ke dalam ejaan Inggris).  Lucunya, kita (orang Indonesia, dan juga Malaysia) menyebarkan maklumat itu kepada orang Indonesia (dan Malaysia), yang jelas mempunyai cara yang berbeda dalam melakukan transliterasi (penyalinan huruf) bahasa Arab!

Zakir Naik adalah “da’i internasional” yang rupanya telah menjadi panutan banyak orang. Tapi, justru di situ pula letak masalahnya! Bila tokoh panutan melakukan kesalahan atau kekeliruan, maka banyak orang pun menjadi ‘korban’ karena terbawa salah/keliru, dan tetap menganggapnya benar karena sang tokoh dianggap sebagai pemilik otoritas.

Sekali lagi, mohon diperhatikan! Cara penulisan yang pasti benar adalah seperti dalam huruf aslinya, dan cara pengucapan  yang benar adalah seperti pengucapan penutur aslinya. Dengan demikian, tanggung jawab para da’i adalah mengajak umat untuk mengenal huruf dan bahasa asli Al-Qurãn…

Jadi, yang perlu diperhatikan secara khusus di sini adalah bahwa penyalinan huruf (transliterasi) dari bahasa apa pun ke dalam bhs Indonesia, tujuannya adalah menjaga sedemikian rupa agar kita mengucapkannya secara relatif sama dengan pembicara aslinya. Dan harap dicatat bahwa prinsip inilah yang menjadi penyebab lahirnya ilmu tajwid. Yaitu ilmu yang dibuat untuk memelihara pelafalan kata dan pengucapan kalimat yang ‘benar’, seperti yang dilakukan para penutur bahasa (native speeker) aslinya. (Ilmu tajwid dikembangkan pada saat Islam sudah masuk ke berbagai tempat dan dianut oleh bangsa-bangsa selain Arab). Karena itu, saya tak setuju dengan pihak yang cenderung menyalin kata-kata Arab dengan mengacu pada huruf-huruf aslinya, karena bisa menghasilkan kesalahan ketika dibaca (diucapkan) oleh orang awam (tak mengerti bahasa Arab, bahkan tak tahu huruf Arab). Contoh: tulisan “bayt(u) al-Laah(i)” tentulah membingungkan orang awam, dibandingkan “baitullah”.

Akhir kalam, saya menganjurkan dengan sangat agar para muslim/muslimah mengalokasikan waktu mereka untuk mempelajari bahasa kitab suci mereka, supaya tidak tetap dalam kebutaan, yang otomatis selalu rawan untuk digiring ke arah yang salah.